Begini Kondisi Lansia Difabel di Pacitan yang Rumahnya Hangus Tersambar Petir

  • Bagikan
Tuginem (80) dan Tugimah (75), dua lansia penyandang disabilitas yang kini terpaksa mengungsi di rumah saudara, Rabu, 13 November 2024. (Foto: Al Ahmadi/BeritaIDN)
Tuginem (80) dan Tugimah (75), dua lansia penyandang disabilitas yang kini terpaksa mengungsi di rumah saudara, Rabu, 13 November 2024. (Foto: Al Ahmadi/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN-Wajah sendu menyelimuti Tuginem (80) dan Tugimah (75), dua lansia penyandang disabilitas asal Kabupaten Pacitan yang kini terpaksa mengungsi di rumah saudara mereka.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Senin malam, 11 November 2024, ketika tempat tinggal mereka yang terletak di RT 1 RW 1 Krajan Sanggrahan, Kebonagung, hangus dilalap api. Diduga, kebakaran ini dipicu oleh sambaran petir.

Kedua lansia tersebut kini menginap di rumah saudara mereka, Supatmi (51), yang terletak sekitar 750 meter dari rumah yang terbakar.

Keponakan ipar mereka, Suparwoto (54), menceritakan bahwa Tuginem telah mengalami disabilitas mental sejak lahir, sementara Tugimah mengalami disabilitas wicara dan kaki bengkok.

Kedua lansia ini telah hidup melajang hingga usia senja, dan dengan kondisi fisik serta mental yang terbatas, mereka tidak bisa hidup sendiri.

Suparwoto menjelaskan bahwa saat kejadian, dirinya sedang berada di rumah anaknya. Ia diberitahu oleh Ketua RT bahwa rumah tersebut terbakar. Ketika ia tiba di lokasi kejadian, kedua nenek tersebut sudah tidak berada di dalam rumah.

Baca juga :  Kisah Gerak Cepat Bripka Latip Pacitan Bantu Lansia Derita Prostat

“Mbah Tugimem berada di bawah pohon mlinjo, sementara Mbah Tugimah ada di jalan turun. Keduanya tampak shock karena sambaran petir dan kebakaran itu,” ujarnya.

Di tengah hujan deras, warga setempat langsung bergegas mengevakuasi Tuginem dan Tugimah. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi begitu cepat, mengingat sebagian besar bangunan rumah terbuat dari kayu dengan atap asbes.

Suparwoto menjelaskan, “Rumah itu separuh kayu, bawahnya tembok sedikit (batu sekeret), kemudian atapnya asbes. Warga sudah berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, tapi karena api terus membesar, usaha itu tidak berhasil.”

Beberapa saat setelah kebakaran, api akhirnya melahap seluruh rumah hingga ludes terbakar. Meskipun warga berusaha keras untuk memadamkan api, api terus meluas dan menghanguskan rumah tersebut. Keadaan tersebut membuat keluarga dan warga sekitar merasa terkejut dan sedih melihat rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Tuginem dan Tugimah tak lagi dapat ditempati.

Keluarga besar Tuginem dan Tugimah kini berharap agar pihak terkait, terutama pemerintah daerah, dapat memberikan bantuan untuk membangun kembali hunian mereka yang telah musnah. Selain itu, mereka juga berharap adanya dukungan psikologis untuk membantu kedua lansia tersebut mengatasi trauma akibat kejadian ini.

Baca juga :  Hadiri Vaksin Massal dan Pembagian Bansos Bripka Latip Utomo: Gunakan Sesuai Kebutuhan

Suparwoto, sebagai kepala keluarga yang kini merawat keduanya, mengungkapkan, “Kami semua berharap ada uluran tangan, baik dari pemerintah atau masyarakat sekitar, agar Mbah Tuginem dan Mbah Tugimah bisa punya tempat tinggal yang layak kembali. Mereka sangat membutuhkan perhatian karena kondisi fisik dan mental yang terbatas.”

Keluarga juga berharap adanya perbaikan dalam layanan sosial untuk lansia penyandang disabilitas, agar bantuan dan dukungan yang diterima dapat lebih berkelanjutan, demi kualitas hidup mereka yang lebih baik di masa depan.

Kebakaran ini bukan hanya merenggut tempat tinggal mereka, tetapi juga menambah beban hidup bagi kedua lansia yang telah berjuang dengan keterbatasan fisik dan mental. Dengan perhatian dan dukungan yang lebih besar, diharapkan mereka dapat kembali merasakan kenyamanan dan keamanan di masa tua mereka. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *