Buku Cerita Ceprotan Jadi Rujukan Sejarah Budaya Desa Sekar Pacitan

  • Bagikan
Peluncuran buku Cerita Budaya Adat Ceprotan Desa Sekar Pacitan. (FOTO: BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Tradisi adat Ceprotan yang selama ini menjadi ikon Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, akhirnya terdokumentasi dalam sebuah buku. Selama ini kisah tentang Ceprotan kerap simpang siur karena hanya diwariskan secara lisan.

Penulis buku, Ratna Pratiwi, mengatakan karyanya ditujukan untuk memperjelas jejak sejarah sekaligus melestarikan tradisi yang sudah melekat di Desa Sekar.

“Harapan saya, setelah buku ini diserahkan ke pemerintah desa, selain menjadi aset Lembaga Adat Desa juga menjadi titik temu cerita yang bisa dijadikan rujukan literasi bagi pembaca yang penasaran akan sejarah Ceprotan,” kata Ratna, Sabtu (30/8/2025) malam.

Buku tersebut ditulis dalam waktu singkat, hanya dua bulan. Meski begitu, Ratna menegaskan naskah ini masih akan terus disempurnakan. “Buku ini bukan akhir, tapi awal dari upaya mendokumentasikan Ceprotan secara lebih serius,” ujarnya.

Baca juga :  Hari Guru Nasional 2024, Gerimis Tak Padamkan Semangat Guru Pacitan

Tradisi Ceprotan sendiri dikenal sebagai ritual adat yang sarat makna. Namun karena minimnya dokumen tertulis, masyarakat kerap mendapatkan versi cerita yang berbeda-beda.

Dengan adanya buku ini, kisah Ceprotan kini memiliki rujukan tertulis yang bisa dipelajari lintas generasi.

Buku tersebut juga sudah diserahkan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur. Kehadiran dokumen tertulis ini diharapkan memperkuat posisi Ceprotan sebagai bagian dari kekayaan budaya Pacitan.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Pacitan, Turmudi, menilai buku ini penting untuk melengkapi upaya pelestarian budaya lokal.

“Kami menyambut baik lahirnya buku ini. Tradisi Ceprotan adalah warisan budaya yang harus dijaga. Dengan adanya dokumentasi tertulis, generasi mendatang bisa mengenalnya lebih mendalam,” ujarnya.

Baca juga :  Sedekah Laut Tamperan, Simbol Syukur Nelayan Pacitan Sambut 1 Suro

Sementara itu, Kepala Dinas PMD Pacitan, Heri Setijono, menekankan pentingnya literasi dalam menjaga budaya. Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya melalui pertunjukan, tetapi juga lewat catatan sejarah.

“Dokumentasi seperti ini sangat penting. Apalagi di era digital, buku bisa menjadi sumber edukasi yang tidak lekang oleh waktu,” jelasnya usai peluncuran di Rumah Pintar Desa Sekar.

Bagi masyarakat Desa Sekar, buku Ceprotan menjadi bukti bahwa tradisi mereka mendapat perhatian lebih. Ritual yang setiap tahun digelar kini tak hanya hidup di panggung adat, tetapi juga tersimpan rapi dalam literasi yang bisa diwariskan. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *