BeritaIDN, PACITAN – Profesi Master of Ceremony (MC) di Kabupaten Pacitan dinilai masih kurang mendapat penghargaan yang layak. Kondisi ini membuat regenerasi berjalan lambat dan minat generasi muda untuk menekuni dunia MC profesional kian menurun.
Ketua Paguyuban Sekar Kridha Utama Pacitan, Bambang Pidera, menyebut posisi MC di Pacitan tertinggal dibanding daerah sekitar seperti Ponorogo, Madiun, Wonogiri, hingga Trenggalek.
“Kalau dibandingkan daerah-daerah itu, penghargaan terhadap MC di Pacitan masih jauh,” kata Bambang, Jumat (2/12/2026).
Ia menegaskan, MC bukan sekadar orang yang bisa berbicara di depan umum. Profesi ini menuntut proses belajar panjang, penguasaan teknik komunikasi, etika, serta tanggung jawab besar dalam mengatur jalannya acara.
“MC itu profesi. Ada ilmunya, ada etikanya, dan tidak bisa dilakukan sembarang orang,” ujarnya.
Menurut Bambang, kualitas sebuah hajatan atau acara resmi sangat ditentukan oleh peran MC. Tanpa MC yang profesional, acara berpotensi berjalan tidak tertata dan kehilangan kesan tertib.
“Tanpa MC, acara bisa kacau. Perias pun bisa kebingungan. Semua unsur dalam acara itu saling terkait,” lanjutnya.
Saat ini, sekitar 50 MC profesional tercatat tergabung dalam Sekar Kridha Utama Pacitan. Namun rendahnya penghargaan, terutama dari sisi ekonomi, membuat profesi ini belum dilirik serius oleh anak muda.
“Kalau MC bisa hidup lebih layak, regenerasi pasti jalan. Anak-anak muda akan mulai melihat ini sebagai profesi,” kata Bambang.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Pacitan, Munirul Ichwan. Ia menilai MC merupakan bagian penting dari ekosistem industri kreatif dan budaya daerah.
“MC, perias, MUA, seniman budaya, itu satu ekosistem. Kalau MC mapan secara ekonomi, profesinya akan terlihat terhormat,” ujar Munirul.
Ia juga menekankan bahwa menjadi MC tidak mudah. Dibutuhkan kemampuan bahasa, pengendalian suasana, dan jam terbang yang panjang.
“MC yang bisa berbahasa Jawa runtut, menjaga suasana, dan mengendalikan acara itu tidak banyak. Belajarnya lama, biayanya juga tidak kecil,” tambahnya.
Karena itu, Munirul mendukung peningkatan penghargaan ekonomi bagi MC, termasuk mendorong tarif jasa minimal Rp400 ribu agar profesi ini lebih menarik bagi generasi muda.
“Kalau dihargai secara layak, MC akan terlihat sebagai profesi yang terhormat dan punya masa depan,” pungkasnya. (*)


