BeritaIDN, PACITAN-Putus mata rantai diare, Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan memperkuat klorinasi sumber air serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di wilayah Sudimoro menyusul meningkatnya kasus diare sejak pertengahan Januari 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr. Daru Mustikoaji, mengatakan klorinasi dilakukan pada 23 Januari 2026 sebagai langkah cepat memutus mata rantai penularan.
“Klorinasi ini kami lakukan agar kasus tidak terus bertambah. Fokus utama kami adalah menghentikan penularan,” kata dr. Daru, Jumat (23/1/2026).
Selain klorinasi, Dinkes Pacitan juga mengintensifkan upaya pencegahan melalui sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sasaran kegiatan tersebut meliputi guru, kader kesehatan, hingga perangkat desa di wilayah terdampak.
Tak hanya sosialisasi, pelatihan langsung penggunaan klorin juga diberikan kepada kader dan perangkat desa agar upaya pencegahan bisa berlanjut di tingkat masyarakat.
“Kami lakukan on the job training penggunaan klorin supaya mereka bisa meneruskan edukasi dan praktik ini ke warga,” ujarnya.
Untuk memastikan langkah penanganan berjalan efektif, Dinkes Pacitan akan melakukan pemantauan kasus selama 14 hari ke depan. Koordinasi lintas wilayah juga diperkuat guna mengantisipasi penyebaran ke daerah lain.
“Kami sudah bertemu dengan enam puskesmas di wilayah timur Pacitan untuk memastikan tidak ada lonjakan kasus di wilayah lain,” jelas dr. Daru.
Ia menjelaskan, peningkatan kasus diare mulai terpantau sejak 12 Januari 2026 dan berlangsung hingga 23 Januari. Puncak kasus tercatat pada 19 Januari 2026 berdasarkan laporan Puskesmas Sudimoro.
Menurutnya, kasus diare tersebut menyerang seluruh kelompok usia. Namun pada awal kejadian, sebagian besar pasien adalah balita dan anak usia sekolah.
“Itu yang membuat kami harus bergerak cepat. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan,” katanya.
Untuk memastikan penyebab kejadian, Dinkes Pacitan telah mengambil sampel pasien. Pemeriksaan mikrobiologi dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, sementara pemeriksaan virus dikirim ke Biokes Lab Jakarta.
“Melihat pola dan periodenya, kecurigaan sementara mengarah ke faktor mikrobiologi, tetapi kami tetap menunggu hasil laboratorium,” terang dr. Daru.
Terkait data yang beredar di masyarakat, dr. Daru meluruskan bahwa angka 290 kasus merupakan data awal hasil penjaringan surveilans.
“Data itu kami peroleh dari laporan wali murid melalui sekolah yang diteruskan ke puskesmas. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran awal kondisi di lapangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, angka tersebut mencakup seluruh keluhan yang dilaporkan, baik muntah, diare, maupun kombinasi keduanya.
“Sementara untuk kasus yang benar-benar membutuhkan pelayanan kesehatan, jumlahnya tercatat sebanyak 42 orang,” jelasnya. (*)












