Terminal Sepi, Tukang Becak Pacitan Makin Sulit Cari Nafkah

  • Bagikan
Sejumlah tukang becak menunggu penumpang di Terminal Pacitan yang kini terlihat sepi, Selasa (27/1/2026). (Foto: Heri/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Sepinya aktivitas di Terminal Pacitan membuat penghasilan tukang becak terus menurun. Kini, banyak dari mereka harus bertahan hidup dengan pendapatan yang semakin tidak menentu.

Kondisi tersebut dirasakan langsung para penarik becak yang puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan terminal. Salah satunya Sumarno (63), yang sudah menarik becak sejak 1977.

“Dulu masih lumayan. Sekarang kadang seharian tidak dapat penumpang. Paling banyak sehari Rp50 ribu, itu pun kalau lagi beruntung,” kata Sumarno, Selasa (27/1/2026).

Sumarno mengaku memilih menjadi tukang becak sejak muda karena keterbatasan ekonomi. Bahkan saat masih sekolah, ia sudah harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Awalnya mangkal dekat rumah sakit tahun 1977. Tahun 1980 pindah ke Penceng, lalu sejak terminal ini dibuka tahun 1985 saya pindah ke sini,” ujarnya.

Baca juga :  Ucapan Selamat Hari Santri Nasional oleh Sekretaris Daerah Pacitan

Menurutnya, sepinya terminal terjadi karena banyak penumpang kini lebih memilih dijemput keluarga atau menggunakan ojek online.

“Sekarang orang-orang sudah jarang naik becak. Kebanyakan dijemput, atau pesan ojol,” tuturnya.

Nasib serupa dialami Supriyadi (60), tukang becak asal Ploso yang sudah mangkal di Terminal Pacitan sejak 1994.

“Kalau dulu lancar. Sekarang sehari paling cuma sekali narik, kadang dua kali, sering juga tidak dapat sama sekali,” ungkapnya.

Meski penghasilan terus menurun, Supriyadi mengaku tetap bersyukur masih bisa bertahan hingga sekarang.

“Bisa bertahan saja sudah alhamdulillah,” ucapnya.

Baik Sumarno maupun Supriyadi berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada nasib tukang becak yang kini semakin terpinggirkan.

Baca juga :  Selamat Idul Fitri 1446 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Batin oleh Pemerintah Desa Gedompol

“Semoga pemerintah bisa mengerti keadaan orang kecil seperti kami ini,” harap Supriyadi. (*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *