BeritaIDN, PACITAN–Rumah Jurnalis Pacitan menggelar diskusi publik bertema integrasi Madrasah Diniyah (Madin) dengan pendidikan SMP, Kamis (29/1/2026), di Gedung Karya Darma Pacitan. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter dan moral siswa di tengah kompleksnya pergaulan anak saat ini.
Diskusi tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tokoh pendidikan, hingga insan media. Fokus utama pembahasan adalah bagaimana menyinergikan pendidikan agama dengan sistem pendidikan formal di tingkat SMP.
Ketua Rumah Jurnalis Pacitan, Rojihan, mengatakan forum ini menjadi ruang awal untuk membangun kesepahaman bersama terkait pentingnya penguatan akhlak di dunia pendidikan.
“Penguatan moral dan akhlak harus terus dibicarakan secara terbuka. Integrasi Madin dengan SMP adalah salah satu ikhtiar untuk menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, diskusi ini menjadi langkah awal sebelum menggelar forum-forum serupa dengan isu yang lebih beragam ke depan.
“Ini diskusi publik pertama kami. Ke depan, akan ada diskusi lanjutan dengan tema-tema lain,” kata Rojihan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menjelaskan bahwa program integrasi Madin dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi pergaulan anak-anak yang semakin kompleks.
“Kita semua prihatin melihat pergaulan anak sekarang dan berbagai ancaman yang ada,” ujarnya.
Menurut Khemal, banyak orang tua mengeluhkan perilaku anak-anak mereka dan menilai pendidikan agama serta karakter sebagai fondasi utama.
“Banyak orang tua merasa pendidikan karakter dan agama itu sangat penting. Karena itu, kami integrasikan dengan pendidikan formal,” jelasnya.
Ia menyebutkan, program integrasi Madin saat ini sudah mulai berjalan di seluruh sekolah di Pacitan sejak sekitar satu minggu terakhir.
“Alhamdulillah, semua lembaga sudah siap dan mulai melaksanakan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Madin yang berada di sekitar lingkungan sekolah akan disinergikan dengan masing-masing satuan pendidikan. Dinas Pendidikan memberikan keleluasaan kepada sekolah dalam mengatur teknis kegiatan.
“Pengaturannya disesuaikan kondisi sekolah. Kami beri fleksibilitas, tetapi jadwal yang sudah dirancang harus berjalan konsisten selama tahun ajaran,” terangnya.
Khemal menegaskan, keberhasilan program ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan media dinilai sangat penting.
“Kami butuh dukungan semua pihak. Keberhasilan Madin adalah keberhasilan bersama,” pungkasnya. (*)












