BeritaIDN, PACITAN – Harga daging ayam potong di Pasar Minulyo, Kabupaten Pacitan, menembus Rp45 ribu per kilogram di pertengahan Ramadan 1447 Hijriah. Para pedagang menyebut lonjakan ini dipicu meningkatnya permintaan selama Ramadan serta dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kenaikan harga itu sudah terasa sejak sebelum puasa dan hingga kini belum juga turun. Jika pada hari normal harga ayam berada di kisaran Rp34–38 ribu per kilogram, kini pedagang menjualnya di angka Rp40–45 ribu per kilogram.
Tanti, 37, pedagang ayam asal Tanjungsari, mengatakan harga tahun ini terasa jauh lebih tinggi dibanding Ramadan sebelumnya.
“Hari ini satu kilo Rp40–42 ribu. Biasanya normal cuma Rp34–35 ribu. Naiknya terasa sekali,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Menurut dia, kondisi harga juga tidak stabil. Dalam beberapa hari terakhir, perubahan harga terjadi cukup cepat sehingga pedagang kesulitan menentukan margin keuntungan.
“Kami pedagang kecil ini jadi serba salah. Mau ambil untung banyak tidak enak, tapi kalau tipis sekali ya berat. Pendapatan jelas berkurang,” katanya.
Tanti menilai, pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan harga biasanya terjadi mendekati Lebaran dan tidak setinggi sekarang. Ia menduga peningkatan permintaan untuk program MBG ikut memengaruhi harga di tingkat kandang.
“Kalau dulu naiknya pelan-pelan dan biasanya pas mau Lebaran. Sekarang pertengahan puasa sudah setinggi ini,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Didik, 49, pedagang ayam asal Pacitan. Ia menyebut harga sudah merangkak naik bahkan sebelum Ramadan dimulai.
“Sebelum puasa sudah mahal, sekarang belum juga turun. Normalnya Rp35–38 ribu, sekarang bisa Rp40–45 ribu,” ungkapnya.
Didik memperkirakan harga masih berpotensi naik menjelang Lebaran, mengikuti tren tahunan. Namun, menurutnya, tahun ini tekanan permintaan terasa lebih kuat.
“Ramadan memang setiap tahun naik. Tapi sekarang ditambah permintaan untuk MBG, jadi makin terasa. Dari kandang sudah naik duluan,” jelasnya.
Kondisi itu berdampak langsung pada jumlah pembeli. Banyak pelanggan rumah tangga maupun pemilik warung mengeluhkan harga yang tinggi. Akibatnya, daya beli menurun.
“Pembeli berkurang. Warung-warung juga protes karena harga mahal. Kalau pembeli turun, otomatis penghasilan kami ikut turun,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menstabilkan harga agar tidak semakin membebani masyarakat, terutama di tengah kebutuhan yang meningkat selama Ramadan.
“Harapannya kalau bisa harga kembali normal seperti tahun kemarin. Biar kami dan pembeli sama-sama tidak terlalu berat,” ujar Tanti. (*)












