BeritaIDN, PACITAN – Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, PC PMII Pacitan menyoroti mulai lunturnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketua PC PMII Pacitan, Sunardi, menilai tantangan ideologi saat ini tidak selalu datang dari ancaman mengganti dasar negara.
Menurutnya, ancaman justru muncul dari memudarnya nilai gotong royong, toleransi, hingga budaya musyawarah di tengah perkembangan era digital.
“Pancasila sering kali hanya berhenti sebagai hafalan lima sila, belum menjadi nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sunardi, Sabtu (30/5/2026).
Ia menyebut sejumlah fenomena sosial menjadi indikator lemahnya internalisasi nilai kebangsaan.
Mulai dari intoleransi, perundungan di media digital, penyebaran hoaks, hingga meningkatnya sikap individualistik.
Sunardi menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah daerah dan kelompok masyarakat.
Karena itu, PMII Pacitan mendorong penguatan nilai Pancasila tidak hanya dilakukan di sekolah atau ruang formal pendidikan.
Menurutnya, nilai kebangsaan juga perlu dihadirkan melalui ruang publik, kegiatan sosial, budaya, hingga keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan daerah.
“Pendidikan Pancasila tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam praktik kehidupan sosial yang nyata,” tegasnya.
PMII juga mendorong penguatan literasi digital untuk membentengi generasi muda dari hoaks, radikalisme, hingga polarisasi sosial.
Selain itu, organisasi mahasiswa, pesantren, dan komunitas masyarakat dinilai perlu dilibatkan dalam memperkuat karakter kebangsaan.
Sunardi menegaskan, Hari Lahir Pancasila semestinya menjadi momentum refleksi bersama.
Bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat agar nilai Pancasila tetap relevan di tengah perubahan zaman. (*)












