BeritaIDN, PACITAN – Hebohnya klaim sepihak soal kemunculan sosok Imam Mahdi di Kecamatan Kebonagung, Pacitan, akhirnya memantik reaksi dari kalangan pesantren.
Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatussuban Pacitan, Gus Zain Rohmatika, mewanti-wanti masyarakat agar tidak mudah terbuai oleh narasi tak berdasar.
Ia mengingatkan, perkara Imam Mahdi berkelindan erat dengan tanda-tanda hari kiamat yang waktunya sepenuhnya digenggam Tuhan.
“Yang pertama yang harus diyakini tentu bahwa akhir zaman atau kiamat itu adalah salah satu rahasia Allah Taala. Jadi manusia sama sekali tidak bisa memastikan kapan waktunya. Walaupun Nabi sudah menyampaikan tanda-tandanya, itu bukan berarti kita bisa memastikan waktunya,” kata Gus Zain kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).
Kemunculan Imam Mahdi memang dicatat sebagai salah satu penanda besar runtuhnya dunia. Tapi, Gus Zain mengingatkan, hal itu bukan dalih pembenar bagi siapa pun untuk bebas mengaku-ngaku.
Sosok suci tersebut tak mungkin disematkan begitu saja ke pundak sembarang orang.
“Nah, Imam Mahdi ini sendiri juga kita tidak bisa memastikan apakah si A atau si B itu adalah Imam Mahdi, apalagi hanya berdasarkan klaim. Itu tidak bisa,” tegasnya lugas.
Jika sosok Imam Mahdi kelak benar-benar turun ke bumi, kemunculannya tidak akan digerakkan oleh ambisi pribadi atau promosi dari sekte tertentu.
Gus Zain menyebut, Tuhan sendiri yang kelak menyatukan hati seluruh umat Islam di dunia untuk tunduk dan mengakuinya.
“Nanti entah bagaimana skenario Allah Taala membuat hati umat ini bersepakat bahwa orang tersebut adalah Imam Mahdi. Jadi bukan karena orang itu mengaku atau diklaim oleh kelompok tertentu,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Zain membongkar fakta dari literatur kitab-kitab kuning. Identitas nama asli apalagi lokasi kemunculannya tak pernah dirinci.
Namun, ada satu syarat mutlak yang disepakati para ulama dan tak bisa diganggu gugat. Syarat ini sekaligus menggugurkan klaim-klaim palsu yang kerap bermunculan.
“Yang dibocorkan dalam kitab-kitab itu hanyalah bahwa Imam Mahdi adalah keturunan atau dzurriyah Nabi Muhammad sendiri,” jelas Gus Zain.
Ia pun meminta warga Pacitan merapatkan barisan dan kembali pada ajaran akidah yang lurus. Sibuk mencari atau menebak-nebak sosok akhir zaman dinilai sebagai tindakan yang membuang waktu.
“Jangan sampai kita mudah percaya hanya karena ada klaim. Yang lebih penting adalah memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, karena kapan pun akhir zaman datang, itulah yang akan menjadi bekal kita,” pungkasnya. (*)












