Usai Lebaran, Kasus Hipertensi dan Kolesterol di Pacitan Melejit

  • Bagikan
Kepala Bidang P2P Dinkes Pacitan, drg. Nur Farida. (Dok. BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Lonjakan kasus hipertensi, gula darah, hingga kolesterol kembali terjadi di Pacitan usai Lebaran. Pola makan yang “lepas kontrol” selama hari raya diduga jadi pemicunya, dan ini bukan cerita baru.

Dinas Kesehatan Pacitan mencatat, tren serupa hampir selalu berulang setiap tahun. Selepas Idulfitri, fasilitas layanan kesehatan langsung dipenuhi pasien dengan keluhan tekanan darah naik, gula darah tak stabil, hingga kolesterol tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg. Nur Farida, mengatakan mayoritas kasus tersebut masuk kategori penyakit tidak menular.

“Yang datang berobat kebanyakan mengeluhkan hipertensi, gula darah, dan kolesterol yang naik,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Ia tak menampik, menu khas Lebaran ikut andil besar. Sajian bersantan, tinggi lemak, serta makanan dan minuman manis jadi kombinasi yang sulit dihindari dan berdampak langsung pada kondisi tubuh.

Baca juga :  Angka Stunting di Pacitan Turun Tajam, Dinkes Targetkan di Bawah 10 Persen

“Selama Lebaran, konsumsi makanan berlemak dan manis meningkat. Itu yang kemudian memicu tekanan darah, gula, dan kolesterol ikut naik,” jelasnya.

Di sisi lain, penyakit menular belum sepenuhnya reda. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih mendominasi di tengah masyarakat.

“Untuk penyakit menular, ISPA masih paling banyak,” tambahnya.

Farida menilai, masalahnya tak berhenti di meja makan saat Lebaran. Justru setelahnya, banyak masyarakat yang belum kembali ke pola hidup sehat. Kebiasaan itu yang memperparah kondisi.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga ritme hidup, baik saat Lebaran maupun setelahnya. Termasuk, tak menunda pemeriksaan kesehatan.

“Kalau perlu, cek kesehatan secara rutin supaya kondisi tubuh tetap terpantau,” tegasnya.

Baca juga :  RSUD Pacitan Genjot Kompetensi SDM Perawat Lewat Pelatihan BTLS

Tanpa pengendalian, lonjakan penyakit tidak menular ini berisiko berujung komplikasi yang lebih serius. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *