Dokter Datang Siang, Antrean Poli RSUD Pacitan Molor hingga Sore

  • Bagikan
Sejumlah pasien menunggu antrean di depan ruang poli di RSUD dr Darsono Pacitan, Kamis (9/4). Waktu tunggu yang panjang membuat sebagian pasien harus bertahan berjam-jam. (Heri/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Keluhan terhadap pelayanan di RSUD dr Darsono Pacitan makin nyaring. Pasien dan keluarga mengaku harus menghadapi alur pemeriksaan yang berbelit, antrean panjang, hingga dokter yang datang tak tepat waktu. Dampaknya, waktu tunggu molor dan kondisi pasien justru makin terkuras.

Rosikin, 28, warga Arjosari, merasakan langsung situasi itu saat mengantar ibunya ke poli saraf, Kamis (9/4/2026). Ia bercerita, pasien harus bolak-balik mengikuti tahapan yang terpisah-pisah tanpa kepastian waktu.

“Antrian ini memusingkan karena manggilnya dua kali, pertama cek darah lalu keluar dan nantinya dipanggil lagi untuk disuntik sama dokternya dan nanti terakhir dipanggil lagi untuk resep obat,” ujarnya.

Menurut dia, pola seperti itu semestinya bisa diringkas. Pasien cukup sekali masuk, diperiksa tuntas, lalu selesai. Namun yang terjadi justru sebaliknya, prosedur terasa panjang dan menguras waktu.

“Seharusnya sekaligus masuk diperiksa kan bisa, kalau gini kan kebanyakan prosedur dan malah membuat lama,” lanjutnya.

Situasi itu, kata Rosikin, makin berat bagi pasien poli saraf yang umumnya memiliki keterbatasan fisik. Bolak-balik ruang pemeriksaan bukan perkara mudah.

“Jadinya kasihan pasien, terutama kalau poli saraf ya tau sendiri keadaan fisik pasien itu seperti itu,” katanya.

Ia juga menyinggung soal keterlambatan dokter yang memperparah antrean. Dari informasi perawat, dokter lebih dulu menangani pasien rawat inap sebelum ke poli.

Baca juga :  Sambang Slamet Bripka Latip Utomo Rajin Sosialisasi Cegah PMK

“Mungkin memang kendala dokternya, karena kemarin itu dokter datangnya tidak tepat waktu. Kemarin saya tanya kata karena dokternya masih mengutamakan yang di rawat inap dulu baru kesini (poli),” jelasnya.

Akibatnya, layanan yang seharusnya dimulai pagi hari kerap mundur hingga siang.

“Akhirnya misalnya yang disini buka jam delapan, nah nanti dokternya datang jam sepuluh bahkan jam sebelas baru datang. Ini benar, ini pengalaman saya sendiri,” tegasnya.

Ia menilai perlu ada pembagian tugas yang lebih jelas antara layanan rawat inap dan poli. Jika tidak, pasien rawat jalan akan terus jadi pihak yang dirugikan.

“Seharusnya kan ini dibagi, ada yang di poli sendiri dan yang bagian rawat inap sendiri. Kalau seperti ini terus kan kasian pasien yang nunggu,” ucapnya.

Tak hanya itu, waktu tunggu yang panjang juga terjadi hingga proses pengambilan obat. Rosikin mengaku bisa menghabiskan hampir seharian di rumah sakit.

“Saya nunggu dari jam sembilan dan ini nanti biasanya sampai sore hingga antrian obat. Kalau gak nuntut waktunya ya kita tinggal pulang, gimana lagi,” keluhnya.

Layanan antar obat pun belum sepenuhnya membantu, terutama bagi pasien yang tinggal di wilayah perbukitan. Obat tidak diantar sampai rumah, melainkan hanya ke titik tertentu.

Baca juga :  Ramadan Ke-4, Tim Gabungan Tingkatkan Pengamanan Rontek di Pacitan

“Kalau semisal obat itu ditinggal, itu tidak bisa diantar sampai ke rumah… karena daerah ditempat saya termasuk bagian atas, ya jadinya kita harus jemput di bawah, jasa antar obat itu sekitar Rp15 ribuan,” ungkapnya.

Meski menggunakan BPJS, ia menilai proses yang harus dilalui tetap melelahkan.

“Ya melelahkan meskipun BPJS, prosedurnya sangat melelahkan,” tegasnya.

Keluhan serupa datang dari Iin Indarti, 87, warga Punung. Lansia itu mengaku pelayanan di poli saraf terasa lambat dan menguras tenaga.

“Iya terlalu lama untuk pelayanannya,” ujarnya singkat.

Ia juga mengeluhkan dokter yang datang siang hari, membuat pasien harus menunggu lebih lama hingga sore, ditambah antrean obat yang tak kalah panjang.

“Gimana ya, dokternya juga siang datangnya. Iya biasanya nanti pulang sore, belum lagi nanti kalau antri obatnya lama lagi,” keluhnya.

Meski ada layanan antar obat, Iin memilih tetap menunggu karena kebutuhan obat yang mendesak.

“Enggak, kita tunggu, karena terlalu jauh… terkadang obat itu harus segera diminum,” katanya.

Para pasien berharap ada pembenahan nyata dari manajemen rumah sakit, terutama terkait ketersediaan dokter dan penyederhanaan alur layanan.

“Kalau bisa diperbaiki lagi untuk pelayanannya agar lebih cepat supaya pasien ini tidak terlalu lama menunggu dan tidak kelelahan juga,” tandasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *