BeritaIDN, PACITAN – Jumlah pasien rawat inap dalam kasus dugaan keracunan MBG di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan terus menyusut.
Dari semula 28 orang yang sempat dirawat, kini tersisa 6 pasien yang masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Sebanyak 22 pasien lainnya sudah dipulangkan setelah kondisi mereka dinyatakan membaik. Sementara itu, total warga yang terdampak dalam kejadian ini tercatat mencapai 158 orang.
Enam pasien yang masih dirawat tersebar di dua lokasi. Tiga orang dirawat di Puskesmas Tegalombo, sedangkan tiga lainnya berada di Puskesmas Arjosari.
Perkembangan terbaru ini mengemuka dalam pertemuan koordinasi lintas sektor di Pendopo Kecamatan Tegalombo, Kamis (16/4/2026).
Forum tersebut dihadiri unsur Forkopimca, pihak sekolah penerima manfaat, puskesmas, Dinas Kesehatan, SPPG, serta para kepala desa di wilayah terdampak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg. Nur Farida, menyebut pertemuan itu digelar sebagai respons atas kejadian yang memicu lonjakan kasus gangguan pencernaan.
“Untuk berdiskusi karena kita memang sama-sama tahu bahwasanya ada kejadian. Kenapa kita sampai mengambil sampel dari SPPG, karena memang ada kejadian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kasus diare sendiri tidak selalu disebabkan satu faktor. Ada banyak kemungkinan pemicu, mulai dari infeksi virus, bakteri yang berkaitan dengan makanan, hingga faktor lain di luar itu.
“Diare itu penyebabnya macam-macam. Bisa karena virus, bakteri yang banyak mengarah ke makanan, alergi, bahkan orang stres pun bisa diare,” jelasnya.
Meski begitu, dalam kejadian di Tegalombo, Dinkes menemukan pola yang cukup menonjol. Lonjakan pasien dengan keluhan serupa sepeeti mual, muntah, dan diare terjadi dalam waktu berdekatan dan didominasi oleh siswa.
“Saat terjadi peningkatan pasien, kami melakukan anamnesis lebih detail. Sehingga terbaca bahwa sebagian besar pasien diare ini adalah siswa,” imbuhnya.
Dari situ, Dinkes langsung bergerak melakukan pendataan, pendalaman riwayat pasien, hingga penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri kemungkinan sumber penyebab.
“Kami langsung melakukan pendataan dan anamnesis pasien, serta penyelidikan epidemiologi agar penanganan bisa segera dilakukan dengan tepat,” tegasnya.
Ke depan, Dinkes Pacitan bersama lintas sektor tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan, termasuk pembenahan SOP dan penguatan pengawasan di lapangan.
“Upaya keberlanjutan kami adalah melakukan pertemuan semua unsur untuk evaluasi dan pembenahan SOP, serta optimalisasi pengawasan secara rutin,” jelasnya. (*)












