BeritaIDN, PACITAN – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang menempatkan capaian siswa Kabupaten Pacitan di bawah rata-rata Jawa Timur menjadi alarm bagi dunia pendidikan setempat.
Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan menilai hasil tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, melainkan harus menjadi bahan introspeksi bersama seluruh elemen, mulai dari pemerintah, guru, orang tua, hingga masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Praktikna, mengatakan pihaknya sengaja membuka hasil TKA kepada publik sebagai bentuk transparansi sekaligus upaya membangun kesadaran kolektif terhadap mutu pendidikan daerah.
“TKA kemarin itu sengaja kami umumkan untuk menjadi refleksi bersama. Pendidikan itu tanggung jawab bersama, bukan hanya Dinas Pendidikan atau sekolah,” kata Khemal, Jumat (19/6/2026).
Menurut dia, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah menurunnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak. Padahal, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga dukungan dan pendampingan dari keluarga.
Karena itu, Dinas Pendidikan mendorong orang tua lebih aktif memantau perkembangan anak, termasuk menjalin komunikasi yang intensif dengan guru untuk mengetahui capaian maupun kendala belajar yang dihadapi siswa.
“Kami berharap orang tua lebih care lagi terhadap pendidikan. Menanyakan hasil anaknya kepada bapak ibu guru, permasalahannya apa, dan bagaimana solusinya. Itu harus menjadi diskusi antara orang tua dengan sekolah,” ujarnya.
Khemal mengaku pihaknya mencermati hubungan antara sekolah dan wali murid dalam beberapa tahun terakhir cenderung semakin longgar. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap peserta didik.
“Selama ini kami cermati hubungan orang tua dengan sekolah semakin longgar. Akhirnya yang menjadi korban anak,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, Dinas Pendidikan mulai memperkuat kembali keterlibatan orang tua dalam berbagai aktivitas sekolah. Salah satunya dengan mendorong pengambilan rapor dilakukan langsung oleh orang tua atau wali murid sehingga komunikasi dengan pihak sekolah tetap terbangun.
Selain itu, sejumlah program yang melibatkan keluarga dalam proses pendidikan juga tengah disiapkan sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan di Pacitan.
Meski capaian TKA Pacitan masih berada di atas rata-rata nasional, Khemal menegaskan pihaknya tidak ingin berpuas diri. Menurutnya, ukuran keberhasilan pendidikan harus dibandingkan dengan daerah yang memiliki capaian lebih baik agar menjadi motivasi untuk terus berkembang.
“Kalau orang cari aman bisa saja bilang TKA kita di atas rata-rata nasional. Tapi pendidikan itu harus berkompetisi. Kita harus melihat yang lebih baik dari kita untuk memperbaiki diri,” katanya.
Saat ini Dinas Pendidikan masih menunggu data resmi dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) terkait peringkat kabupaten/kota se-Jawa Timur. Namun berdasarkan perbandingan sementara dengan sejumlah daerah sekitar, posisi Pacitan masih berada di bawah beberapa daerah tetangga.
“Tetapi dari beberapa daerah yang kami bandingkan, kita masih di bawah Ponorogo, Ngawi, dan Madiun meskipun selisihnya tipis,” ungkapnya.
Khemal menegaskan hasil TKA tahun ini akan menjadi bahan evaluasi internal bagi Dinas Pendidikan sekaligus pijakan untuk memperbaiki berbagai aspek yang masih lemah.
“Kami akan mengoreksi internal kami untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Kami ingin mengajak bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang baik untuk anak-anak kita,” tuturnya.
Ia menargetkan capaian TKA Pacitan pada tahun-tahun mendatang tidak hanya melampaui rata-rata nasional, tetapi juga mampu berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur. Menurutnya, target tersebut hanya dapat dicapai jika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama.
“Target yang jelas, kita harus berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur. Ini membutuhkan kerja keras semua pihak. Hasil TKA ini juga bentuk pertanggungjawaban kami kepada publik,” pungkasnya. (*)
Caption Foto: Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Praktikna, saat menyampaikan evaluasi hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang menunjukkan capaian Pacitan masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur.












