BeritaIDN, PACITAN – Kecamatan Bandar dan Nawangan tetap berada di deretan bawah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 meski memiliki sekolah yang mampu menembus peringkat 10 besar tingkat kabupaten. Kondisi ini dinilai menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas pembelajaran antarsekolah di kedua wilayah tersebut.
Anggota DPRD Pacitan dari daerah pemilihan Bandar-Nawangan, Bagus Surya Pratikna, mengatakan capaian sejumlah sekolah berprestasi belum mampu mendongkrak rata-rata nilai TKA kecamatan secara keseluruhan.
“Kalau terkait 10 besar, sebenarnya Kecamatan Nawangan dan Kecamatan Bandar itu ada semua. Tapi yang menjadi PR kita adalah rata-ratanya,” kata Bagus, Kamis (25/6/2026).
Menurut dia, hasil tersebut menjadi indikator bahwa kualitas pembelajaran belum merata. Di satu sisi terdapat sekolah yang mampu bersaing di tingkat kabupaten, namun di sisi lain masih ada sekolah yang tertinggal sehingga memengaruhi capaian rata-rata wilayah.
Bagus menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya melahirkan sekolah unggulan, melainkan juga memastikan kualitas pembelajaran dapat dirasakan secara merata oleh seluruh siswa.
Ia mencontohkan Kecamatan Punung yang mampu berada di posisi atas berdasarkan rata-rata hasil TKA meski tidak memiliki sekolah yang masuk jajaran 10 besar tingkat kabupaten.
“Saya melihat Kecamatan Punung itu malah tidak ada yang masuk 10 besar, tetapi bisa berada di nomor dua. Artinya kemampuan siswa yang bagus itu harus bisa menular ke siswa yang lain,” ujarnya.
Karena itu, Bagus mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pembelajaran di Bandar dan Nawangan. Menurut dia, seluruh pihak perlu duduk bersama untuk mencari akar persoalan sekaligus merumuskan langkah perbaikan.
“Itu merupakan tanggung jawab kita bersama. Tanggung jawab guru-gurunya, termasuk orang tuanya, dan juga mungkin kita sebagai wakil dari masyarakat juga,” katanya.
Sebagai langkah awal, ia berencana berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk mempertemukan guru, wali murid, serta pihak-pihak terkait guna membahas kondisi pendidikan di wilayah tersebut.
“Ke depan nanti kami akan mengajak Pak Camat untuk bisa menghadirkan guru dan juga wali murid untuk membahas bagaimana pendidikan di Kecamatan Bandar itu tidak tertinggal dengan kecamatan yang lainnya,” ujarnya.
Meski hasil TKA tahun ini belum menggembirakan, Bagus mengaku tidak ingin terburu-buru mencari pihak yang harus disalahkan. Ia menilai perlu ada kajian lebih mendalam sebelum menentukan langkah kebijakan.
“Kalau saat ini kami belum mendalami. Tapi nanti akan kita bahas bersama dan kita cari solusi. Yang jelas kita tidak akan menyalahkan siapa pun,” tegasnya.
Menurut dia, capaian TKA tidak hanya dipengaruhi sarana dan prasarana pendidikan. Faktor proses belajar mengajar, peran guru, hingga keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil yang diperoleh siswa.
“Masalah TKA ini bisa dibilang infrastruktur mempengaruhi, tapi juga bisa tidak. Karena ini terkait proses pembelajaran ataupun bagaimana guru dan juga orang tua memberikan pemahaman kepada anak-anak kita. Hasil TKA itu kan menunjukkan bagaimana proses belajar-mengajarnya,” jelasnya.
Bagus berharap hasil TKA 2026 menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Bandar dan Nawangan agar capaian siswa pada tahun mendatang dapat meningkat.
“Ini menjadi pelecut bagaimana setelah hasil TKA ini ke depan harus ada kenaikan. Khususnya di dapil saya, Kecamatan Nawangan dan Bandar,” pungkasnya. (*)












