BeritaIDN, PACITAN – Keindahan stalaktit dan stalagmit yang menghiasi perut bumi menjadi daya tarik Gua Tabuhan di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Namun, gua ini menyimpan keistimewaan yang membuatnya berbeda dari destinasi wisata alam lainnya: bebatuan tertentu dapat menghasilkan nada menyerupai gamelan ketika ditabuh.
Keunikan itu menghadirkan pengalaman wisata yang tidak sekadar memanjakan mata, tetapi juga menawarkan sensasi mendengarkan irama musik dari bebatuan alam.
Di dalam gua, formasi batuan kapur terbentang dengan bentuk dan ukuran beragam. Stalaktit menggantung dari langit-langit, sementara stalagmit menjulang dari dasar gua. Sebagian batuan membentuk pilar alami yang menambah kesan eksotis pada ruang bawah tanah tersebut.
Keindahan itu menjadi pengalaman tersendiri bagi pengunjung, termasuk Kateni, yang menikmati pesona alam Gua Tabuhan.
Bagi Kateni, daya tarik gua tersebut bukan hanya terletak pada panorama bebatuan yang terbentuk secara alami, melainkan juga pada keunikannya menghasilkan bunyi menyerupai instrumen musik tradisional.
“Gua Tabuhan ini punya keunikan tersendiri. Pemandangan batu-batunya indah, bentuknya juga menarik. Yang paling membuat penasaran, ternyata ada bebatuan yang bisa menghasilkan bunyi seperti gamelan,” ujar Kateni.
Menurut dia, perpaduan keindahan alam dan suara bebatuan menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat wisata lain. Keunikan tersebut membuat Gua Tabuhan layak menjadi salah satu tujuan wisata ketika berkunjung ke Pacitan.
“Tempatnya menarik untuk dikunjungi. Selain bisa menikmati keindahan gua, kita juga bisa melihat keunikan alam yang tidak biasa. Wisata seperti ini perlu terus dikenalkan agar semakin banyak orang yang datang,” katanya.
Keajaiban Bunyi dari Bebatuan
Nama Gua Tabuhan berasal dari kata tabuh, yang berkaitan dengan aktivitas memukul atau membunyikan instrumen. Sejumlah formasi batuan di dalam gua memiliki karakteristik yang memungkinkan munculnya nada ketika dipukul. Bunyi tersebut dapat menyerupai suara gamelan Jawa.
Keistimewaan ini kemudian dimanfaatkan oleh seniman setempat untuk mengembangkan pertunjukan musik dengan bebatuan gua sebagai instrumen. Ketika dipadukan dengan tabuhan alat musik tradisional dan suara pesinden, gema di dalam gua menciptakan atmosfer pertunjukan yang khas.
Karakter akustik tersebut bahkan menarik perhatian komposer asal Austria, Elizabeth Schimana, yang berkolaborasi dengan kurator seni Ignatia Nilu dalam eksperimen musik bertajuk Gema Tabuhan pada Desember 2024.
Keunikan Gua Tabuhan memperlihatkan bahwa kekayaan wisata Pacitan tidak hanya bertumpu pada pantai dan bentang alam di permukaan. Di balik bukit kapur, terdapat ruang alami yang menyimpan keindahan geologi sekaligus potensi seni budaya.
Bagi wisatawan, kunjungan ke Gua Tabuhan menawarkan kesempatan untuk menikmati panorama bebatuan, mengenal fenomena alam, dan menyaksikan bagaimana masyarakat mengolah keunikan tersebut menjadi pertunjukan seni.
Gua Tabuhan pun menjadi bukti bahwa alam memiliki cara tersendiri untuk memikat manusia. Di tempat ini, bebatuan bukan hanya membentuk lanskap yang memesona, tetapi juga menghadirkan irama yang menjadi ciri khas wisata Pacitan.(*)












