BeritaIDN, PACITAN – Penutupan sementara aktivitas tambang pasir di kawasan Sungai Grindulu sejak Rabu (20/5/2026) memukul ekonomi warga Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan. Pekerja tambang kehilangan penghasilan harian setelah seluruh aktivitas penambangan dihentikan.
Bagi sebagian warga, tambang pasir bukan sekadar pekerjaan sampingan. Aktivitas itu menjadi sumber nafkah utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya sekolah anak.
Salah satu pekerja tambang, Janap Suprapto, mengatakan penutupan membuat para pekerja tidak lagi memiliki pemasukan.
“Penutupan ini sudah sekitar satu minggu. Informasinya karena masalah jalan rusak di Purworejo, bukan daerah sini. Wilayah Arjowinangun aman, tapi kami ikut terdampak,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Janap, sedikitnya terdapat sekitar 10 kepala keluarga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas tambang di lokasi tersebut. Sejak penghentian operasional, warga terpaksa menganggur.
“Tenaga nganggur semua, keluarga otomatis ekonominya berhenti, biaya anak sekolah juga macet,” katanya.
Selama penutupan berlangsung, bantuan yang diterima warga disebut masih sangat terbatas.
“Pernah dapat bantuan baru sekali beras 5 kilogram dari kepolisian per KK,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan pekerja lainnya, Misri. Ia menjelaskan aktivitas tambang di Sungai Grindulu dilakukan secara manual tanpa alat berat besar.
“Di sini nyedotnya sore jam 2 sampai jam 4, dikumpulkan dulu lalu dijual besok paginya. Semua manual,” ujarnya.
Penghasilan pekerja pun disebut tidak menentu. Dalam kondisi tertentu, pasir yang sudah dikumpulkan tidak langsung terjual sehingga pekerja pulang tanpa membawa uang.
“Kadang kita nimbun, besoknya tidak laku, pulang tidak bawa uang sama sekali,” ungkap Misri.
Ia menyebut satu kelompok pekerja biasanya hanya mampu menghasilkan sekitar tiga muatan dump truck per hari. Pendapatan tersebut masih dibagi untuk biaya operasional, termasuk pembelian solar.
“Paling satu hari itu per kelompok dapat tiga dump truck, uangnya dibagi empat untuk solar dan operasional,” katanya.
Di lokasi tersebut terdapat sekitar delapan kelompok pekerja dengan anggota masing-masing empat hingga lima orang. Para pekerja berharap ada kepastian kebijakan agar aktivitas tambang dapat kembali berjalan dan ekonomi warga kembali bergerak.
“Masih bingung kita,” tuturnya.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan aktivitas tambang pasir di kawasan Sungai Grindulu kembali dibuka. (*)












