Penilaian Ombudsman Jatim di RSUD dr Darsono Pacitan Fokus Dongkrak Kepercayaan Pasien

  • Bagikan
Tim Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur saat melakukan evaluasi pelayanan publik dan mewawancarai jajaran RSUD dr. Darsono Pacitan, Rabu (19/8/2026). (Foto: Dok. RSUD dr. Darsono)

BeritaIDN, PACITAN – Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur menegaskan bahwa ukuran keberhasilan RSUD dr. Darsono Pacitan bukan sekadar capaian nilai evaluasi yang tinggi atau kelengkapan fasilitas mewah, melainkan tingkat kepercayaan dan kepuasan pasien.

Hal tersebut menjadi fokus utama saat tim evaluator Ombudsman Jatim turun langsung menguji kualitas pelayanan publik dan upaya pencegahan maladministrasi di RSUD dr. Darsono Pacitan, Rabu (19/8/2026).

Dalam sidak dan penilaian tersebut, tim evaluator membagi proses kroscek ke dalam dua skema.

Satu evaluator mewawancarai Direktur, Ketua Pengelola Pengaduan, staf, hingga dokter untuk menguji aspek kompetensi.

Sementara dua evaluator lainnya menyisir sarana prasarana, memantau standar pelayanan, serta mewawancarai langsung para pasien yang sedang berobat di rumah sakit.

Perwakilan Ombudsman Jatim, Johan Tri Putranto, menjelaskan bahwa skema penilaian saat ini tidak lagi sekadar memeriksa formalitas kelengkapan berkas administrasi.

Baca juga :  E-Koran Edisi 16 Oktober 2025, Camat Djoko Harijanto: Momentum Menghargai Jasa Ulama dan Santri

“Prinsipnya, penilaian Ombudsman itu semakin komprehensif, mencakup input, proses, output, bahkan pengelolaan pengaduan dan pencegahan maladministrasi,” ujar Johan.

Menurut Johan, seluruh aktivitas pelayanan harian petugas, mulai dari kejelasan informasi, sikap empati, kecepatan penanganan, hingga tindak lanjut aduan merupakan indikator utama yang dinilai.

“Pekerjaan kita sehari-hari itu sebenarnya sudah mencerminkan semua itu. Mulai dari memberikan informasi yang jelas, melayani dengan profesional dan penuh empati, bekerja ramah dan cepat, menjelaskan alur dengan baik, serta menindaklanjuti pengaduan,” terangnya.

Ia mengingatkan seluruh jajaran manajemen dan tenaga medis agar tidak anti-kritik serta berani mengakui kekurangan demi perbaikan layanan di lapangan.

“Setiap orang yang ada di rumah sakit ini mempunyai kontribusi besar terhadap potret atau wajah rumah sakit di mata masyarakat. Kita harus berani mengakui kekurangan dan memperbaikinya karena pengaduan masyarakat adalah masukan yang penting,” tegas Johan.

Baca juga :  E-Koran Edisi 28 November 2025, Lomba Tari Guru Meriahkan HGN 2025 di Kebonagung Pacitan

Johan menekankan bahwa muara dari seluruh penilaian ini adalah terbangunnya rasa percaya dari masyarakat terhadap rumah sakit daerah.

“Ukuran keberhasilan rumah sakit itu bukan hanya angka yang tinggi, capaian yang tinggi, atau fasilitas yang mumpuni, tetapi juga kepercayaan serta kepuasan masyarakat,” tuturnya.

Ia pun mengimbau seluruh insan RSUD dr. Darsono Pacitan menjadikan evaluasi ini sebagai pelecut untuk membudayakan pelayanan prima.

“Mari terus bekerja, saling menguatkan, dan memperbaiki diri. Ombudsman ini kita jadikan cermin, masyarakat kita jadikan orientasi, pelayanan prima kita jadikan budaya, dan integritas kita jadi harga diri,” pungkas Johan. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *