BeritaIDN, PACITAN – Berawal dari keprihatinan melihat tumpukan sampah plastik polybag pembibitan, dua pelajar SMPN 1 Pacitan sukses menyulap limbah kopi menjadi biopot ramah lingkungan.
Inovasi cemerlang ini tak hanya menjawab tantangan ekologi, tetapi juga berhasil mengantarkan mereka menembus 20 besar nasional Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.
Duo inovator muda tersebut, Pelangi Embun Kinanthi dan Kirana Pramudita Kamil, bersiap mewakili daerahnya untuk berlaga di babak final tingkat nasional bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) jenjang SMP yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 23 September mendatang.

Wakil Kepala SMPN 1 Pacitan Bidang Kurikulum, Nur Khopsun, mengungkapkan bahwa tiket menuju Jakarta diraih setelah melalui tahapan seleksi proposal dan riset yang panjang.
Dari dua tim SMPN 1 Pacitan yang lolos proposal awal, tim Pelangi dan Kirana melaju hingga puncak usai mendapatkan pembinaan langsung secara daring dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“OPSI itu perjalanannya bertahap, mulai dari pengajuan proposal, seleksi, hingga pembinaan dari kementerian melalui BRIN. Dari total 60 tim SMP se-Indonesia yang lolos ke Jakarta, khusus untuk bidang IPA ada 20 tim, dan kita berhasil masuk di 20 nasional itu,” terang Nur, Kamis (17/9/2026).
Nur menjelaskan, gagasan riset biopot ini lahir dari kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Saat berkunjung ke Watumejo Mangrove Park Pacitan pada akhir 2025, para siswa menyoroti penggunaan polybag plastik yang sulit terurai alami di kawasan konservasi.
Meramu solusi atas temuan itu, siswa memformulasikan pot berbahan dasar ampas kopi, serat batang pisang, dan serabut kelapa. Untuk menahan laju hancur saat direndam di area pasang surut air laut, biopot tersebut dilapisi dengan beeswax (lilin lebah) dan carnauba wax (lilin alami daun palem).
“Ada beberapa sampling yang diuji cobakan. Ternyata dengan lapisan lilin itu, biopot lebih lama hancurnya saat direndam. Bisa bertahan sekitar tiga minggu, waktu yang memungkinkan pertumbuhan akar bakau menjadi lebih kuat,” urainya.
Meski sukses menghasilkan prototipe yang diakui BRIN, riset yang memakan waktu hampir 10 bulan ini masih terbentur sarana prasarana. Nur mengakui, proses produksi biopot murni mengandalkan tenaga manual. Sekolah belum memiliki mesin cetak press serta mesin pengering (oven), sehingga bergantung sepenuhnya pada terik matahari.
Namun, keterbatasan alat tak menyurutkan langkah. Di Jakarta nanti, biopot limbah kopi ini akan dibawa langsung untuk diuji. Para siswa diwajibkan mengikuti pameran (expo), melakukan presentasi di hadapan juri ahli, serta memecahkan tantangan spontan (challenge).
Ke depan, terobosan ini diproyeksikan tidak hanya berhenti sebagai karya perlombaan. Pihak Watumejo Mangrove Park telah merespons positif temuan ini dan membuka lebar peluang kolaborasi.
“Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi berpotensi memiliki nilai ekonomi. Ke depan bisa menjadi daya tarik ekowisata sekaligus sumber pendapatan baru, baik bagi kawasan mangrove maupun anak-anak,” pungkas Nur. (*)












