BeritaIDN, PACITAN – Antrean panjang di RSUD dr Darsono Pacitan belum juga terurai. Di tengah keluhan pasien yang harus menunggu berjam-jam, manajemen rumah sakit justru menilai persoalan utama ada pada ketidaktertiban pasien mengikuti jadwal layanan.

Sorotan itu mengemuka lantaran antrean, terutama di poli rawat jalan, masih kerap mengular sejak pagi. Padahal, rumah sakit mengklaim sudah membenahi sistem melalui pendaftaran online yang memungkinkan pasien mengetahui estimasi waktu dilayani jauh hari.
Direktur RSUD dr Darsono Pacitan, dr Johan Triputranto, menjelaskan penumpukan paling sering terjadi pada pasien kontrol. Menurutnya, sistem saat ini sebenarnya tidak lagi sekadar memberi nomor antrean, tetapi sudah dilengkapi estimasi jam pelayanan.
“Pada pendaftaran online, pasien sudah mendapatkan estimasi jam dilayani, bukan hanya nomor antrean saja,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Masalahnya, kata dia, praktik di lapangan tidak berjalan sesuai skenario. Banyak pasien memilih datang jauh lebih awal dari jadwal yang tertera.
“Misalnya estimasi dilayani jam 10, tapi pasien datang jam 7 pagi. Ini yang membuat antrean terlihat panjang,” jelasnya.
Di sisi lain, keluhan masyarakat justru selama ini bertumpu pada lamanya waktu tunggu. Target pelayanan maksimal tiga jam dari datang hingga pulang pun diakui belum tercapai.
“Target kita sebenarnya tidak lebih dari tiga jam, tapi kenyataannya ada yang sampai empat bahkan lima jam,” ungkap Johan.
Lonjakan pasien, lanjut dia, paling terasa di poli lansia, penyakit dalam, saraf, dan jantung. Mayoritas pasien di poli tersebut berusia lanjut.
“Sebagian besar pasien di poli tersebut berusia 69 sampai 90 tahun,” katanya.
Ia tak menampik, faktor nonteknis ikut berpengaruh. Jarak tempuh dan keterbatasan transportasi membuat pasien memilih datang lebih pagi, menyesuaikan dengan aktivitas keluarga yang mengantar.
“Kondisi di lapangan memang tidak selalu sesuai dengan yang kita rumuskan. Mungkin karena medan, lokasi, dan transportasi. Rata-rata datang bareng anaknya berangkat kerja atau cucunya sekolah, jadi harus pagi,” imbuhnya.
Untuk meredam antrean, RSUD mengaku sudah melakukan sejumlah pembaruan. Selain rekam medis elektronik, layanan pengantaran obat juga digulirkan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia.
“Resep yang masuk sebelum jam dua siang bisa diantar dalam 1×24 jam sampai ke rumah pasien. Kalau lewat jam dua, akan dikirim H+1,” jelasnya.
Namun, berbagai inovasi itu belum sepenuhnya berdampak pada berkurangnya antrean. Manajemen rumah sakit kembali menekankan pentingnya kedisiplinan pasien mengikuti sistem yang sudah disiapkan.
“Ya itu konsekuensi kalau kondisi di lapangan tidak sesuai,” katanya.
Ke depan, RSUD berencana memperkuat sosialisasi sekaligus membenahi fasilitas ruang tunggu agar lebih nyaman.
“Kita akan siapkan ruang tunggu yang lebih representatif. Meskipun pasien menunggu lebih dari tiga jam, setidaknya bisa lebih nyaman,” pungkasnya. (*)











