BeritaIDN, PACITAN – Antrean panjang yang tak kunjung terurai di RSUD dr. Darsono Pacitan kembali menuai sorotan. Kondisi itu dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan layanan yang sedang “sakit” dan butuh pembenahan serius.
Ketua Projo Pacitan, Jhon Vera Tampubolon, blak-blakan menyebut kualitas pelayanan di rumah sakit daerah tersebut jauh dari kata layak. Menurutnya, manajemen belum benar-benar menempatkan pelayanan sebagai bagian penting dari proses penyembuhan pasien.
“Rumah sakit itu seharusnya memberi pelayanan terbaik, karena itu bagian dari obat. Tapi kalau pasien justru dibuat menunggu lama, ini jelas menunjukkan pelayanan yang bermasalah,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menilai, antrean panjang yang terus berulang tak bisa lagi dianggap lumrah. Pasien yang datang dalam kondisi sakit, kata dia, semestinya mendapat kemudahan, bukan justru dipaksa mengikuti alur pelayanan yang berbelit.
“Pasien itu bukan orang sehat. Mereka datang untuk sembuh, bukan untuk dipersulit dengan antrean panjang yang tidak jelas ujungnya,” tegasnya.
Sorotan juga diarahkan pada sistem pendaftaran online. Alih-alih memudahkan, mekanisme tersebut disebut belum berjalan efektif karena pasien tetap harus mengulang proses secara manual di lokasi.
“Daftar online itu seperti tidak ada gunanya. Tetap saja pasien harus antre ulang. Ini membuktikan sistemnya tidak berjalan,” katanya.
Lebih jauh, Jhon Vera menyinggung persoalan klasik yang tak kunjung dituntaskan seperti keterbatasan tenaga medis. Ia mempertanyakan keseriusan manajemen RSUD dalam meningkatkan kualitas layanan, terlebih rumah sakit itu disebut sebagai salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar.
“RSUD ini penyumbang PAD besar, tapi pelayanannya amburadul. Kenapa tidak fokus menambah tenaga medis? Jangan hanya sibuk bangun gedung,” kritiknya.
Pengalaman di lapangan, lanjut dia, memperlihatkan situasi yang memprihatinkan. Pasien harus menunggu lama, bahkan anak-anak sampai menangis karena tak segera mendapat penanganan.
“Ada anak kecil sampai menangis meraung-raung karena terlalu lama menunggu. Ini bukan sekadar antrean, ini sudah menyangkut sisi kemanusiaan,” ungkapnya.
Kondisi itu, menurutnya, makin berat bagi pasien dari luar kota. Mereka harus menempuh perjalanan jauh, bahkan mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi, namun tetap dihadapkan pada antrean panjang.
“Mereka datang dari jauh, bahkan harus menyewa kendaraan. Tapi justru dipaksa menunggu lama. Ini bentuk ketidakpedulian terhadap pasien,” tambahnya.
Tak hanya itu, kedisiplinan tenaga medis juga ikut disorot. Keterlambatan dokter datang dinilai memperparah penumpukan antrean, sementara pasien sudah menunggu sejak pagi.
“Pasien sudah antre dari pagi, tapi dokter belum siap. Ini jelas menunjukkan manajemen pelayanan yang buruk,” tegasnya lagi.
Di akhir pernyataannya, Jhon Vera mengingatkan, sebagai rumah sakit milik daerah, RSUD Pacitan seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan dengan standar tinggi. Namun realitas di lapangan, kata dia, masih jauh dari harapan masyarakat.
“Kalau RSUD ini penyumbang PAD terbesar, seharusnya juga jadi penyumbang kesembuhan terbesar,” pungkasnya. (*)












