726 Gempa Guncang Pacitan Selama 2026, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan

  • Bagikan
Petugas BPBD Pacitan memantau aktivitas gempa bumi melalui layar Command Center BPBD Pacitan, Jumat (29/5/2026). (Foto: Heri/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Aktivitas gempa bumi di Kabupaten Pacitan sepanjang 2026 terbilang tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan mencatat sebanyak 726 kejadian gempa terjadi sejak Januari hingga 29 Mei 2026, dengan tujuh di antaranya dirasakan masyarakat.

Tingginya aktivitas seismik tersebut membuat BPBD meminta masyarakat tetap waspada, terutama karena seluruh wilayah Pacitan dinilai memiliki potensi terdampak gempa bumi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, menjelaskan jumlah gempa terbanyak tercatat pada Maret, disusul Februari dan April.

Data BPBD mencatat, pada Januari terjadi 117 gempa, Februari 159 kejadian, Maret 166 kejadian, April 151 kejadian, dan hingga 29 Mei tercatat 133 gempa.

“Kalau dari pantauan teman-teman ini ya gempa dari perairan atau di laut dan itu rata-rata gempa dengan jarak dari daratan lumayan jauh kemudian kedalaman juga cukup dalam. Kalau gempa darat sangat jarang terjadi,” kata Yagus, Jumat (29/5/2026).

Menurut dia, sebagian besar gempa bersumber dari aktivitas di laut dengan pusat gempa relatif jauh dari daratan dan memiliki kedalaman cukup dalam, sehingga tidak seluruhnya dirasakan warga.

Meski demikian, BPBD mencatat gempa berkekuatan besar sempat terjadi pada awal tahun. Pada Januari terjadi gempa bermagnitudo 5,7, sedangkan Februari mencapai 6,4 magnitudo.

Baca juga :  Kecam Kekerasan Anak di Pacitan, Dinas Ungkap Korban Sempat Trauma Berat

“Yang kemarin di Februari 6,4 sama 5,7 Januari kemarin,” ujarnya.

BPBD menegaskan tingginya frekuensi gempa tidak boleh memicu kepanikan. Sebaliknya, masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan memahami risiko kebencanaan di lingkungan masing-masing.

Sebagai langkah mitigasi nonstruktural, BPBD terus memperluas pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di berbagai wilayah.

“Yang jelas ini tidak hanya untuk gempa saja, untuk mitigasi non struktural kita membentuk namanya Destana yang intinya adalah membangun atau menguatkan kapasitas masyarakat untuk bisa paham dan mengetahui serta bisa memitigasi risikonya di masing-masing wilayah,” jelas Yagus.

Selain edukasi masyarakat, mitigasi struktural juga diperkuat melalui pemasangan Early Warning System (EWS) tsunami di kawasan rawan pesisir. Sistem tersebut berasal dari bantuan BNPB dan sejumlah lembaga nonpemerintah.

“Kalau untuk struktural kita bukan pembangunan dari APBD tapi hibah bantuan dari BNPB, lembaga non pemerintah ada dari Dompet Dhuafa dan yang lainnya itu kita bangun EWS (Early Warning System) untuk tsunami,” tambahnya.

Berdasarkan kajian risiko kebencanaan BPBD, seluruh kecamatan di Pacitan masuk kategori rawan gempa bumi. Kondisi geografis Pacitan yang berada di jalur lempeng besar membuat potensi tersebut tetap harus diantisipasi.

“Kalau berdasarkan dokumen kajian risiko kebencanaan kami, gempa itu rata-rata di perairan laut dalam sana, seluruh wilayah di Kabupaten Pacitan itu rawan gempa bumi dan berpotensi gempa bumi di seluruh wilayah,” ungkapnya.

Baca juga :  Dorong Pelayanan Kesehatan, Bhabinkamtibmas Polsek Tulakan Bripka Latip Utomo Apresiasi Renovasi Posyandu Dusun Ngambar  

Selain dipengaruhi aktivitas lempeng besar yang membentang dari Sumatera hingga Sulawesi, Pacitan juga memiliki Sesar Grindulu yang tetap perlu diwaspadai.

“Karena selain kita dilewati lempeng besar yang memanjang dari Sumatera sampai Sulawesi, kita punya Sesar Grindulu. Meskipun jarang terjadi gempa darat tapi itu juga sangat berbahaya dan hal yang harus kita antisipasi dan waspadai,” tegasnya.

Tak hanya gempa bumi, ancaman tsunami juga menjadi perhatian. Seluruh kawasan pesisir Pacitan sepanjang sekitar 112 kilometer disebut masuk zona rawan.

“Kalau yang rawan terjadi tsunami ya sepanjang 70 mil pesisir pantai kita atau sekitar 112 kilometer itu semuanya rawan,” katanya.

BPBD mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi aktif meningkatkan literasi kebencanaan, mengikuti sosialisasi, dan memanfaatkan aplikasi informasi bencana dari pemerintah.

“Pesannya kepada masyarakat agar tidak panik bahwa kita memang daerah rawan bencana, tetapi dengan kita meningkatkan kewaspadaan kita dengan cara meningkatkan kapasitas dari sosialisasi, literasi serta dapat mengakses aplikasi-aplikasi yang disediakan pemerintah, masyarakat tidak perlu panik lagi karena bisa mengetahui kira-kira potensi bencana yang akan terjadi,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *