Ogah Bebani Guru, Dindik Pacitan Sulap Program Adiwiyata Masuk Kurikulum SMP

  • Bagikan
Kepala Bidang SMP Dindik Kabupaten Pacitan, Fandi Normansyah. (Foto: Heri/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan merombak total skema penerapan Program Adiwiyata di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Tak ingin isu lingkungan hidup sekadar jadi ajang seremoni atau beban administrasi yang memicu guru lembur mendadak, Dindik menginstruksikan integrasi penuh indikator Adiwiyata ke dalam kurikulum dan Proses Belajar Mengajar (PBM) harian.

Kepala Bidang SMP Dindik Kabupaten Pacitan, Fandi Normansyah, mengungkapkan bahwa hambatan utama sekolah dalam mengikuti Adiwiyata selama ini bukanlah dari segi aktivitas fisik, melainkan pola pikir (mindset) dan kerumitan pemberkasan.

“Ketika ditunjuk jadi sekolah Adiwiyata, sekolah cenderung keberatan karena indikatornya dianggap memberatkan. Padahal, tanpa disadari, aktivitas ramah lingkungan itu sudah dijalankan murid dalam pembelajaran sehari-hari, cuma belum terdokumentasikan dan diadministrasikan dengan baik,” ujar Fandi Normansyah, Selasa (4/8/2026).

Guna mengurai benang kusut tersebut, Dindik Pacitan menggagas terobosan dengan menyisipkan indikator peduli lingkungan langsung ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta proyek mata pelajaran.

Baca juga :  Perang AS–Iran Memanas, Dandim Pacitan Minta Warga Tak Panik

Melalui skema ini, sekolah tak perlu lagi menguras energi untuk membuat acara khusus atau program tambahan terpisah yang membebani finansial dan waktu.

“Tinggal didesain dan dimasukkan dalam perencanaan pembelajaran sejak awal. Satu kali dayung, dua sampai tiga tujuan tercapai. Pembelajarannya jalan, administrasi pembelajaran selesai, administrasi Adiwiyata juga beres. Ini jauh lebih efektif,” terangnya.

Fandi mencontohkan, integrasi ini tak hanya menyasar mata pelajaran IPA seperti pengolahan limbah atau sistem 3R (Reuse, Reduce, Recycle), tetapi juga mencakup seluruh mata pelajaran, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI).

“Materi PAI tentang thaharah atau bersuci, misalnya. Air bekas wudu atau bersuci siswa bisa ditampung kembali untuk menyiram tanaman sekolah. Itu sudah masuk indikator Adiwiyata yang konkret dan riil,” jelas Kabid SMP tersebut.

Gandeng DLH dan MGMP, Targetkan Budaya Massal Tanpa ‘Lembur Kaget’

Untuk memuluskan gagasan ini, Dindik Pacitan telah bergandengan tangan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan untuk menyelaraskan indikator penilaian teknis. Selain itu, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) didorong menjadi pemantik utama dalam meramu modul ajar berbasis lingkungan.

Baca juga :  E-Koran Edisi 22 Oktober 2025, Momentum HSN Camat Kebonagung Ingatkan Bahaya Bullying dan Nikah Dini

Tak hanya urusan kelas, kolaborasi dengan DLH juga menyentuh manajemen pengelolaan sampah sekolah, mulai dari pemilahan organik untuk kompos hingga penyaluran non-organik ke TPS3R atau bank sampah terdekat.

Dengan langkah ini, Dindik berharap iklim sekolah ramah lingkungan di Pacitan terbentuk secara serentak, bukan hanya saat ada penunjukan sampel penilaian Adiwiyata oleh pemerintah pusat atau provinsi.

“Kami ingin ini jadi gerakan bersama dan pembiasaan harian. Jadi ketika setiap tahun ada penilaian Adiwiyata, sekolah mana pun yang ditunjuk sudah siap 100 persen. Guru-guru tidak perlu lagi lembur mendadak hanya untuk rekayasa administrasi atau bikin kegiatan sesaat menjelang penilaian,” tegas Fandi. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *