BeritaIDN, PACITAN – Kerusakan jalan Ketro-Sidomulyo di Kecamatan Kebonagung kembali memakan korban. Murni Hadi (52), warga Dusun Ngricik, Desa Sidomulyo, harus menjalani masa pemulihan selama tiga bulan setelah mengalami kecelakaan di ruas jalan yang rusak tersebut.
Hingga kini, Murni mengaku masih trauma setiap kali harus melintasi jalan yang menjadi penghubung sejumlah desa itu.
Kecelakaan terjadi saat Murni pulang mengantar anaknya sekolah pada pagi hari. Saat melintas dari arah Mantren menuju Sidomulyo, ia memilih melaju pelan mengikuti kendaraan di depannya yang juga mengurangi kecepatan akibat kondisi jalan berlubang dan rusak.
“Saya dari Mantren mau turun dan pelan-pelan karena di depan saya orang pelan karena jalan rusak itu, nah saya ketabrak orang dari belakang katanya remnya ngeplos. Saya ketimpa sepeda motor saya,” kata Murni, Minggu (21/6/2026).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB ketika lalu lintas sedang padat. Selain aktivitas warga, banyak pelajar melintas menuju sekolah dan saat itu bertepatan dengan hari pasaran di Desa Gayam.
Menurut Murni, kondisi jalan yang sempit membuat pengendara sulit menghindar ketika terjadi situasi darurat.
“Kalau mau minggir ya gimana, minggir itu jurang. Jadi milihnya jalan yang pas bagus,” ujarnya.
Ia mengatakan kerusakan jalan tersebut bukan persoalan baru. Bahkan sebelum dirinya menjadi korban, banyak pengendara yang terjatuh di lokasi yang sama.
“Sebelumnya sebenarnya di jalan itu yang kejungkel sudah banyak,” katanya.
Menurut dia, bagian jalan yang relatif aman dilalui hanya berada di satu sisi sehingga sering menyulitkan pengendara ketika berpapasan dengan kendaraan lain.
“Bagian yang bagus cuma sejalur. Apalagi kalau ada mobil ya susah,” ujarnya.
Tiga Bulan Hanya Bisa Merangkak
Akibat kecelakaan itu, Murni terpaksa menghentikan aktivitasnya sebagai petani. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk beristirahat di rumah karena tidak mampu beraktivitas normal.
“Ya cuma istirahat di rumah. Kerja ringan pun baru bisa sekitar dua mingguan ini,” katanya.
Trauma juga masih membekas hingga sekarang.
“Karena kejadian itu saya trauma lewat jalan situ,” ujarnya.
Murni menyebut kerusakan jalan Ketro-Sidomulyo sudah berlangsung sekitar empat tahun. Meski sempat diperbaiki, perbaikan yang dilakukan tidak bertahan lama.
“Dulu pernah diperbaiki pakai aspal bakar, tapi cuma ditempel-tempel dan akhirnya ngelupas lagi,” katanya.
Kondisi yang dialami Murni dibenarkan istrinya, Erni Widyawati (40). Ia mengatakan suaminya sempat tidak bisa berjalan selama berbulan-bulan setelah kecelakaan.
“Baru habis jatuh itu sulit. Bengkak dan cuma bisa ngesot selama tiga bulan. Alhamdulillah sekarang sudah sehat, tapi belum berani motoran. Dibonceng pun masih sulit,” kata Erni.
Selama masa pemulihan, keluarga membawa Murni berobat ke Puskesmas Kebonagung dan menjalani terapi tradisional.
“Ke Puskesmas Kebonagung sudah tiga kali dan ke sangkal putung sudah lima kali,” ujarnya.
Warga: Hampir Setiap Hari Ada yang Jatuh
Keluhan serupa disampaikan warga sekitar tanjakan Salam Growong. Mereka menyebut kecelakaan di ruas jalan tersebut hampir terjadi setiap hari, terutama saat jam berangkat dan pulang sekolah.
Misirah (47), warga Dusun Gayam, mengatakan banyak pelajar menjadi korban karena berusaha menghindari lubang atau kehilangan keseimbangan saat berpapasan dengan kendaraan lain.
“Hampir setiap hari ada yang jatuh. Terutama anak sekolah. Kadang karena menghindari lubang, kadang karena jalannya sempit,” katanya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pacitan segera melakukan perbaikan permanen sebelum muncul korban yang lebih parah.
“Jangan sampai menunggu ada korban yang lebih parah lagi. Kami hanya ingin jalan ini segera diperbaiki karena setiap hari digunakan masyarakat,” ujar Misirah. (*)












