BeritaIDN, PACITAN – Salah seorang pengikut setia Pujianto Ikhsan, Sulardi (59), secara terbuka mengklaim bahwa sang guru warga asal Dusun Plalangan, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, merupakan sosok pemimpin akhir zaman atau Imam Mahdi setelah dirinya menjalani proses laku spiritual selama dua tahun terakhir.
Sulardi menceritakan bahwa perjalanan batinnya bermula dari pencarian ilmu kesaktian dan spiritualitas hingga akhirnya memutuskan menetap di kelompok tersebut.
“Dulu memang saya mencari siapa orang yang sakti. Saya ingin belajar kepada orang-orang sakti,” ujar Sulardi, Kamis (6/8/2026).
Dalam pengakuannya, Sulardi mengklaim telah melewati serangkaian tahapan olah batin ketuhanan, termasuk pengucapan amalan wirid dan zikir khusus dalam hitungan puluhan ribu kali.
“Yang terakhir lakon ketuhanan, harus wirid zikir Allah Tunggal, Maha Tunggal, Tuhan Yang Maha Esa, Allah, sebanyak 86.400 kali. Setelah selesai diucapkan, kemudian dibatinkan ke dalam hati juga sebanyak 86.400 kali,” kata Sulardi.
Atas dasar pengalaman ritual tersebut, Sulardi meyakini gurunya telah mengalami penyatuan jiwa dengan Sang Pencipta dan menerima petunjuk-petunjuk non-fisik yang tidak ditulis oleh manusia. Ia bahkan mengklaim seluruh ruh nabi dan rasul secara gaib berkumpul pada diri Pujianto.
“Dalam pelajaran yang sudah disampaikan di Al-Qur’an ada nanti di akhir zaman utusan Allah yang ditunjuk. Beliau yang saya ikuti. Kalau saya menyebutkan, itu pemimpin akhir zaman, Imam Mahdi, Satrio Piningit, Ratu Adil,” tutur Sulardi.
Bertentangan dengan Pernyataan Pimpinan
Klaim yang disampaikan oleh pengikutnya tersebut bertentangan dengan keterangan resmi dari Pujianto Ikhsan saat dikonfirmasi di tempat yang sama.
Pujianto secara tegas menolak narasi bahwa dirinya mendeklarasikan diri sebagai sosok Imam Mahdi atau pembawa agama baru.
“Sama sekali tidak ada pernyataan mengaku Imam Mahdi. Kami selaku sebagai mutlak, hak mutlak, hak milik Tuhan Yang Maha Esa. Tempat ini bukan padepokan atau perkumpulan apa pun, hanya tempat pribadi dan keluarga untuk belajar bertuhan,” kata Pujianto di rumahnya.
Adanya dinamika serta pergeseran pemahaman doktrin keagamaan di kalangan pengikut tersebut kini dalam perhatian dan evaluasi intensif pihak berwenang di Kabupaten Pacitan guna menjaga kondusivitas serta ketertiban umum. (*)











