BeritaIDN, PACITAN – Alih-alih mendapatkan pasokan air jernih untuk kebutuhan harian, pelanggan Perumda Air Minum Tirta Dharma Kabupaten Pacitan justru mendapati air keran yang mengalir ke rumah mereka berubah warna menjadi keruh kehitaman, berlendir, berbau amis, hingga memicu gatal-gatal pada kulit.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dialami oleh Uty Krisna, warga RT 02 RW 03 Lingkungan Kebon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan. Ia mengungkapkan bahwa buruknya kualitas air di tempat tinggalnya sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Parahnya, ketika air tersebut disaring menggunakan kain, tampak endapan kotoran pekat berwarna hitam dan bertekstur lendir. Kondisi ini membuat pasokan air tersebut sama sekali tidak layak pakai, bahkan sekadar untuk mencuci pakaian.
“Airnya kotor sekali. Kalau disaring, kotorannya hitam dan berlendir. Untuk mencuci saja tidak bisa. Sudah beberapa minggu yang lalu kondisinya seperti ini,” keluh Uty, Kamis (15/10/2026).
Persoalan serupa rupanya turut dirasakan oleh pelanggan di titik wilayah lain dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Di kawasan Kelurahan Baleharjo misalnya, pelanggan mengeluhkan air distribusi yang mengeluarkan bau amis menyengat pada Rabu (14/10/2026), sebuah insiden yang disebut bukan kali pertama terjadi.
Tak hanya soal kualitas air yang buruk, warga lainnya juga mengeluhkan macetnya distribusi aliran air hingga empat hari berturut-turut, serta timbulnya reaksi gatal-gatal di kulit seusai menggunakan air tersebut untuk mandi.
Dalih Kemarau dan Target Normal Sepekan
Merespons rentetan keluhan pelanggan tersebut, Direktur Perumda Air Minum Tirta Dharma Pacitan, Agus Suseno, tidak menampik adanya penurunan kualitas air di sejumlah titik jaringan.
Menurutnya, fenomena air keruh ini merupakan imbas dari musim kemarau panjang yang membuat tekanan dan distribusi pengaliran air di dalam jaringan perpipaan menjadi tidak stabil.
“Memang kemarin-kemarin ada beberapa keluhan dari pelanggan yang airnya keruh. Ini salah satu dampak kemarau yang cukup panjang, sehingga distribusi pengaliran air di jaringan pipa tidak bisa selalu stabil,” terang Agus saat dikonfirmasi, Kamis (15/10/2026).
Guna mengatasi masalah endapan kotoran di dalam pipa yang terbawa hingga ke rumah warga, pihak perusahaan daerah mengklaim telah menerjunkan petugas ke lapangan.
Langkah teknis yang diambil saat ini adalah melakukan pengurasan (flushing) serta pembersihan jaringan perpipaan secara bertahap, sembari menindaklanjuti setiap aduan yang masuk.
“Targetnya, satu minggu ke depan aliran air kembali normal,” janjinya.
Dikomplain terkait kelayakan air dan gangguan distribusi tersebut, Agus justru turut menyelipkan imbauan kepada para pelanggan agar lebih bijak dan berhemat dalam menggunakan air selama musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat pelanggan di musim kemarau saat ini untuk bisa berhemat dalam pemakaian air, mengingat saudara-saudara kita di beberapa wilayah lain masih membutuhkan bantuan dropping air bersih,” pungkasnya. (*)











