BeritaIDN, PACITAN – Gempuran tren makanan dan minuman kekinian yang sarat gula dan karbohidrat olahan ternyata membawa petaka tersembunyi bagi kesehatan gigi.
Risiko ini semakin fatal lantaran mayoritas masyarakat masih salah kaprah dalam menerapkan jadwal menyikat gigi sehari-hari.
Peringatan serius ini dilontarkan oleh Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut RSUD dr. Darsono Pacitan, drg. Satrya Ayu Erawatie Prayudha, Sp.PM., M.DSc. Ia menyoroti fenomena keluhan kerusakan gigi yang kini merata pada semua kelompok usia di Kabupaten Pacitan.
Menurutnya, konsumsi makanan kekinian yang serba manis dan minim serat memicu penumpukan plak secara masif. Bakteri di dalam plak tersebut akan memanipulasi sisa gula menjadi zat asam yang perlahan menggerogoti lapisan pelindung gigi (email).
“Jika berlangsung berulang kali, permukaan gigi dapat mengalami kerusakan hingga terbentuk lubang. Keluhan ini merata pada semua usia akibat pengaruh makanan kekinian yang tidak diimbangi konsumsi serat dan kurangnya oral hygiene,” terang drg. Satrya, Minggu (13/9/2026).
Salah Kaprah Waktu Menyikat Gigi
Kerusakan gigi (karies) ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang masih menjadikan jadwal mandi sebagai patokan utama untuk menyikat gigi. Padahal, secara medis, waktu yang dianjurkan dan paling krusial adalah setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam.
Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Pacitan ini menjelaskan, menyikat gigi setelah sarapan berfungsi menyapu bersih sisa makanan harian. Sementara itu, menyikat gigi sebelum tidur malam adalah benteng pertahanan vital bagi mulut.
“Saat tidur, produksi air liur berkurang sehingga kemampuan alami mulut untuk membersihkan dan menetralisir asam juga menurun. Masyarakat perlu mengubah kebiasaan, jadikan setelah sarapan dan sebelum tidur sebagai patokan utama, bukan sekadar ‘setelah mandi’ dan jangan asal menyikat,” tegasnya.
Fase Kritis dan Infeksi Sekunder
Di Pacitan, kesadaran deteksi dini diakui masih sangat rendah. Mayoritas warga baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika karies gigi sudah telanjur dalam, memicu rasa ngilu kronis, sensitif terhadap suhu ekstrem, hingga sakit berdenyut yang tak tertahankan.
“Seringnya pasien dibiarkan tidak mendapatkan perawatan sejak dini, akhirnya tidak bisa dirawat lagi dan harus dicabut karena muncul infeksi sekunder,” sesal drg. Satrya.
Ia mengimbau masyarakat untuk berhenti menjadikan rasa sakit sebagai alarm tunggal untuk pergi ke dokter gigi. Pemeriksaan berkala sangat krusial untuk mencegah kerusakan permanen dan menyelamatkan aset kesehatan mulut di tengah maraknya gempuran kuliner manis masa kini. (*)












