BeritaIDN, PACITAN – Setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pasar di Kabupaten Pacitan hingga April 2026 masih jauh dari target. Dari total Rp3,13 miliar yang dibidik tahun ini, realisasinya baru sekitar Rp550 juta atau setara 18 persen.
Angka itu diakui belum menggembirakan. Aktivitas jual beli di pasar dinilai belum benar-benar pulih, sehingga berdampak langsung pada setoran daerah.
Kepala Bidang Pasar Disdagnaker Pacitan, Bambang Surono, menyebut pergerakan PAD sangat bergantung pada ramainya pembeli. Semakin sepi pengunjung, otomatis omzet pedagang ikut turun dan berimbas ke pendapatan daerah.
“Hal ini sangat tergantung pada konsumen yang datang berbelanja, karena berpengaruh langsung terhadap omzet pedagang,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, sumber PAD dari sektor pasar cukup beragam. Mulai dari sewa kios, los, bedag, hingga pemanfaatan aset milik pemerintah daerah. Ada pula kontribusi dari retribusi parkir khusus yang berada di luar badan jalan.
“Sumber PAD kami berasal dari sewa kios, los, bedag, pemanfaatan aset daerah, serta retribusi parkir khusus di luar badan jalan,” jelasnya.
Di Pacitan sendiri, ada 14 pasar yang dikelola pemerintah daerah. Seluruhnya menjadi urat nadi ekonomi warga, terutama bagi pelaku usaha kecil dan pedagang tradisional.
Meski begitu, target PAD tahun ini justru sedikit diturunkan. Dibandingkan 2025, angkanya terkoreksi sekitar 1 persen. Penyesuaian ini disebut mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.
“Target tahun 2026 ini memang turun sekitar 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menyesuaikan kondisi di lapangan,” imbuh Bambang.
Harapannya, daya beli masyarakat bisa kembali terangkat dalam beberapa bulan ke depan. Jika pasar kembali ramai, setoran PAD diharapkan ikut terdongkrak.
“Harapannya daya beli masyarakat meningkat, pasar kembali bergairah, masyarakat kembali tertarik berbelanja di pasar, dan pasar bisa menjadi pusat ekonomi masyarakat lagi,” pungkasnya. (*)












