Kisah Novia Wardhani Jadi Cermin Kartini Masa Kini di Pacitan

  • Bagikan
Novia Wardhani, Sekretaris Satpol PP Pacitan, membagikan kisah perjuangannya dari desa hingga menjadi pejabat, bertepatan dengan momentum Hari Kartini 2026. (Foto: Heri/BeritaIDN)

BeritaIDN, PACITAN – Perjalanan hidup Novia Wardhani seperti merangkum makna Hari Kartini hari ini. Berangkat dari keterbatasan di desa, ia kini duduk di kursi pejabat sebagai Sekretaris Satpol PP Pacitan.

Nama Novia Wardhani mungkin tak asing di lingkungan Pemkab Pacitan. Namun, di balik posisinya hari ini, tersimpan cerita panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan tekad yang tak goyah sejak kecil.

Perempuan kelahiran Pacitan, 1 November 1982 itu, tumbuh tanpa kehadiran ibu sejak usia belia. Ayahnya pun tak selalu ada di sisi karena pekerjaan. Sejak saat itu, hidupnya bertumpu pada kasih sayang kakek dan nenek.

“Ibu saya meninggal sebelum saya genap 11 tahun dan ayah saya tidak ada disisi saya karena kesibukan kerjanya. Akhirnya saya dibesarkan oleh kakek nenek dari alm ibu saya,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Masa kecil yang serba terbatas tak lantas membuatnya berhenti bermimpi. Meski begitu, jalan hidupnya ternyata tak sesuai rencana awal. Ia yang dulu bercita-cita menjadi hakim, justru berbelok arah karena dorongan sang nenek.

“Saya itu tidak punya cita-cita jadi PNS, dulu ingin jadi hakim. Tapi nenek saya menyuruh saya ikut tes CPNS,” katanya.

Keputusan itu menjadi titik balik. Lulus dari Universitas Darul Ulum Jombang pada 2004, Novia nekat mendaftar CPNS hanya bermodal surat keterangan lulus. Tekadnya sederhana, ingin membalas jasa sang nenek.

“Motivasi saya waktu itu ingin membahagiakan mbah saya. Hidup itu cuma sekali, maka hiduplah yang memberi arti,” ungkapnya.

Baca juga :  E-Koran Edisi 5 November 2025, Camat Tulakan Dukung Program Mollamil Papa di Pacitan

Hasilnya tak sia-sia. Ia dinyatakan lolos CPNS di tahun yang sama, lalu mulai meniti karier sebagai staf bagian hukum pada April 2005.

“Alhamdulillah saya bisa lolos CPNS tahun 2004, lalu April 2005 masuk sebagai staf bagian hukum,” jelasnya.

Kariernya bergerak pelan tapi pasti. Tahun 2010, ia dipercaya sebagai Kasubag Bantuan Hukum. Lalu pada awal 2022 menjabat Kabid di BKPSDM, berlanjut ke DPMD pada 2024, hingga akhirnya dilantik sebagai Sekretaris Satpol PP Pacitan pada 2026.

Di balik capaian itu, ada cerita getir saat masa kuliah. Uang kiriman yang terbatas memaksanya bertahan dengan cara-cara sederhana, bahkan harus berjualan demi menyambung hidup.

“Saya dulu dikirimi Rp200 ribu sama simba saya untuk makan, itu sangat kurang. Jadi saya jualan baju, buku, tas, bahkan jual makalah untuk mencukupi kebutuhan,” kenangnya.

Tak hanya bertahan, ia juga belajar arti berbagi. Bantuan dari orang-orang di sekitarnya saat kuliah membekas hingga kini, dan mendorongnya melakukan hal serupa.

“Dulu saya kuliah juga karena dibantu orang. Jadi saya ingin membantu orang lain yang punya niat sekolah,” ujarnya.

Komitmen itu bukan sekadar ucapan. Novia pernah menyekolahkan anak yatim dan yatim piatu di Pacitan, sebagian di antaranya bahkan telah lulus.

“Dulu saya menyekolahkan lima anak yatim dan sudah lulus, lalu sekarang masih ada dua yang mondok. Saya berharap itu jadi amal jariyah,” ungkapnya.

Baca juga :  Bukber Bareng Media dan Santuni Anak Yatim, Polres Pacitan Perkuat Silaturahmi Ramadan

Di tengah kesibukan sebagai ASN, ia tetap menjaga perannya di rumah. Menikah pada 2008, kini ia menjadi ibu dari dua anak laki-laki. Baginya, keseimbangan adalah kunci.

“Saya menikah tahun 2008 dan sekarang punya dua anak laki-laki,” katanya.

Ia punya cara sederhana menjaga keharmonisan keluarga dengan meluangkan waktu bersama di sela rutinitas.

“Biasanya kami family time, olahraga bareng, sholat berjamaah, lalu bercanda bersama. Itu membuat anak-anak terbuka,” tuturnya.

Menurutnya, perempuan harus paham peran tanpa kehilangan jati diri. Di rumah sebagai ibu dan istri, di kantor sebagai pelayan masyarakat.

“Kita harus memahami peran kita sebagai istri, ibu, dan ASN. Pagi sebagai ibu dan istri, lalu kita bekerja melayani masyarakat,” jelasnya.

Bagi Novia, hidup tak sekadar dijalani, tapi harus memberi arti. Prinsip itu yang terus ia pegang sejak awal.

“Motivasi hidup saya, hidup cuma sekali maka hiduplah yang memberi arti, jadilah hebat dan bermanfaat,” tegasnya.

Di momen Hari Kartini, ia pun menitipkan pesan sederhana namun kuat untuk perempuan, khususnya di Pacitan.

“Tidak penting siapa dirimu di masa lalu, yang penting siapa dirimu di masa depan. Setiap perempuan itu luar biasa,” pesannya.

Ia menutup dengan satu kalimat yang mencerminkan perjalanan hidupnya sendiri tentang bagaimana bertahan dan menguatkan diri.

“Tugas kita bukan menyalahkan angin, tapi menguatkan akar agar kita punya nilai di mana pun berada,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *