Kematian Ternak Massal di Pringkuku Jadi Sorotan DPRD Pacitan, Komisi II Minta Evaluasi Total Program Vaksinasi

  • Bagikan
Ketua Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko meminta kasus kematian delapan ternak di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap program kesehatan hewan dan vaksinasi yang dijalankan pemerintah daerah.
Ketua Komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko meminta kasus kematian delapan ternak di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap program kesehatan hewan dan vaksinasi yang dijalankan pemerintah daerah.

BeritaIDN, PACITAN – Kasus kematian delapan hewan ternak di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, mendapat perhatian serius dari DPRD Pacitan. Komisi II DPRD meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program kesehatan hewan, termasuk pelaksanaan vaksinasi yang selama ini dijalankan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, menilai kematian ternak secara beruntun dalam waktu singkat harus menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program pencegahan penyakit yang telah dilaksanakan pemerintah.

“Menurut saya ini menjadi bahan evaluasi. Kalau tidak salah dulu juga ada program dari DKPP terkait vaksin dan sebagainya. Kalau sampai masih ada kejadian seperti ini tentunya kita harus mengetahui lebih detail bagaimana program itu berjalan dan bagaimana masyarakat bisa menerima program tersebut,” kata Rudi Handoko, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurut Rudi, upaya pencegahan penyakit pada ternak tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Kesadaran peternak dalam menjaga kebersihan dan standar kesehatan kandang juga menjadi faktor penting untuk menekan risiko penyebaran penyakit.

“Sehingga yang dinamakan kandang bersih atau kandang yang berstandar juga diperlukan,” ujarnya.

Baca juga :  5 dari 8 Kasus Kekerasan di Pacitan Didominasi Kekerasan Seksual pada Anak

Ia menambahkan, penanganan kesehatan hewan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari DKPP, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat agar program yang dijalankan dapat diterima dan diterapkan secara maksimal oleh para peternak.

“Ini membutuhkan kerja sama antara DKPP, perangkat desa, dan juga tokoh masyarakat sehingga program-program dari DKPP yang berkaitan dengan kesehatan hewan benar-benar menjadi prioritas bersama,” katanya.

Sementara itu, penyebab pasti kematian lima ekor sapi dan tiga ekor kambing di Desa Pelem hingga kini masih belum diketahui. DKPP Pacitan telah melakukan pemeriksaan lapangan dan mengambil sampel dari ternak yang mati untuk diuji di Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Yogyakarta.

Rudi meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab kematian ternak tersebut.

“Terkait identifikasi sebenarnya ini penyakit apa tentunya kita masih menunggu hasil dari BBVet Yogyakarta,” jelasnya.

Meski demikian, DPRD mendorong pemerintah daerah segera melakukan langkah antisipasi agar kasus serupa tidak meluas ke wilayah lain yang memiliki populasi ternak cukup besar.

Menurutnya, peternak perlu terus diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan kandang, kesehatan hewan, serta memanfaatkan layanan kesehatan hewan yang disediakan pemerintah.

Baca juga :  Lahan Pertanian Terus Menyusut, DKPP Klaim Padi Pacitan Masih Surplus

“Kami berharap ada antisipasi di daerah lain. Jangan sampai ini juga berdampak ke wilayah lain yang banyak peternaknya. Masyarakat perlu mewaspadai kondisi kandang, kesehatan hewan, dan memanfaatkan DKPP sebagai pihak yang memiliki kewenangan memberikan informasi, sosialisasi, dan tindakan terkait kesehatan hewan,” tegasnya.

Sebelumnya, DKPP Pacitan melaporkan kematian lima ekor sapi dan tiga ekor kambing di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, dalam kurun waktu sekitar 10 hari terakhir. Kasus tersebut membuat peternak setempat waswas karena kematian terjadi hampir bersamaan tanpa penyebab yang diketahui.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, mengatakan hingga Selasa, 9 Juni 2026, belum ada laporan tambahan terkait kematian ternak. Namun hasil pemeriksaan laboratorium dari BBVet Wates juga masih belum keluar.

“Hari ini tadi kami konfirmasi ke BBVet, hasilnya belum keluar. Semoga sudah tidak ada ternak mati lagi,” ungkap Sugeng.

Pemerintah daerah saat ini masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan apakah kematian ternak tersebut berkaitan dengan penyakit menular tertentu, seperti PMK, antraks, atau faktor lainnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *