BeritaIDN, PACITAN – Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Pacitan, Sunardi mengingatkan generasi muda tentang bahaya sikap pragmatis dan kepentingan sesaat yang dapat menggerus idealisme.
Menurut Sunardi, momentum Hari Sumpah Pemuda 2026 tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan dan slogan persatuan, melainkan perlu diwujudkan melalui sikap kritis, kepekaan sosial, serta keberanian mengawal kepentingan masyarakat.
“Sumpah Pemuda lahir dari keberanian melawan keadaan, bukan dari kepatuhan terhadap kenyamanan. Jika hari ini pemuda hanya pandai meneriakkan perubahan, tetapi memilih diam ketika melihat ketidakadilan, maka sesungguhnya kita sedang mengkhianati semangat sejarah yang kita peringati sendiri,” tegas Sunardi, Rabu (28/10/2026).
Ia secara khusus menyoroti peran mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab mengkritisi kebijakan publik serta mengawasi jalannya kekuasaan.
“Gerakan mahasiswa akan kehilangan kehormatannya ketika idealisme mulai ditukar dengan kepentingan. Kita tidak boleh menjadi generasi yang lantang berbicara tentang rakyat di ruang diskusi, tetapi kehilangan suara ketika berhadapan dengan kekuasaan. Mahasiswa harus berdiri di atas prinsip, bukan berlutut di hadapan kepentingan,” ujarnya.
Sunardi menjelaskan, kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi. Kendati demikian, penyampaian kritik tersebut harus disertai analisis yang mendalam, argumentasi yang kuat, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks daerah, ia menilai kecintaan terhadap wilayah tidak cukup ditunjukkan melalui kebanggaan atas identitas dan potensi lokal, ataupun sebatas hadir dalam agenda seremonial pemerintah. Generasi muda dinilai perlu mengambil peran aktif dalam mengawasi, mengevaluasi, dan mengawal arah pembangunan agar program pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Di sisi internal, Sunardi menegaskan bahwa sebagai organisasi kaderisasi, PMII memiliki tanggung jawab membentuk kader yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kesadaran sosial, dan keberanian moral.
“PMII tidak boleh hanya melahirkan kader yang pandai berdebat, tetapi gagap membaca penderitaan rakyat. Intelektualitas tanpa keberpihakan hanya akan menjadi kemewahan akademik. Gerakan tanpa integritas akan kehilangan arah, dan organisasi yang kehilangan keberanian kritis hanya akan menjadi pelengkap kekuasaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda tidak berarti menyeragamkan pandangan atau membungkam kritik, melainkan menjadi landasan untuk memperjuangkan kepentingan bersama di tengah perbedaan pendapat. Ia berharap peringatan 28 Oktober ini menjadi ruang evaluasi bagi generasi muda untuk menjaga independensi dan meningkatkan kontribusi nyata bagi masyarakat. (*)













