BeritaIDN, PACITAN – Kepedulian terhadap dampak kemarau dan krisis air bersih di kampung halaman menggerakkan hati para perantau yang tergabung dalam komunitas Anak Rantau Pacitan (ARPAC).
Melalui aksi bakti sosial, komunitas ini menggalang donasi secara mandiri untuk menyalurkan total 35 tangki air bersih ke puluhan titik wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Pacitan.
Sekretaris DPP ARPAC, Agung Wahono, menjelaskan bahwa inisiatif kemanusiaan ini digalang selama dua pekan terakhir dengan mengonsolidasikan kepedulian para anggota yang tersebar di berbagai kota perantauan serta melalui jejaring media sosial.
“Dalam waktu dua minggu belakangan ini, kami melakukan konsolidasi dan menggalang dana, baik melalui media sosial maupun teman-teman yang ada di perantauan. Kami melihat Pacitan saat ini sangat membutuhkan bantuan air bersih,” ujar Agung di sela penyaluran bantuan, Minggu (18/10/2026).
Pada pendistribusian hari pertama, ARPAC mengerahkan armada pengangkut air untuk menyasar tujuh titik awal, meliputi tiga lokasi di Kecamatan Donorojo, tiga lokasi di Kecamatan Sudimoro, serta satu lokasi di Kecamatan Punung.
Penyaluran tahap berikutnya dijadwalkan bergerak menuju 11 titik di wilayah Kecamatan Pringkuku, Arjosari, dan Punung, disusul gelombang lanjutan pada Rabu dan Kamis mendatang yang membidik sekitar 18 lokasi tambahan.
Guna menembus topografi wilayah Pacitan yang beragam, ARPAC mengombinasikan penggunaan armada truk tangki reguler dengan truk engkel.
“Untuk kapasitas armada, kami menyesuaikan dengan kondisi medan di lapangan. Kalau lokasi sulit dijangkau kendaraan tangki besar, kami menggunakan truk engkel berkapasitas sekitar 3.000 sampai 4.000 liter. Sementara untuk armada tangki reguler bisa membawa sekitar 5.000 hingga 6.000 liter,” terangnya.
Agung menambahkan, pemetaan titik lokasi penerima bantuan didasarkan pada usulan pengurus maupun anggota ARPAC di tiap-tiap kecamatan yang kemudian diseleksi berdasarkan tingkat kerawanan.
“Data permohonan yang masuk sampai saat ini mencapai 58 titik. Kami prioritaskan wilayah yang paling membutuhkan terlebih dahulu. Apabila nanti masih ada sisa dana dari para donatur, harapannya bisa menjangkau titik-titik lainnya,” imbuh Agung.
Jeda Giliran Air hingga 10 Hari di Desa Gedompol
Hadirnya bantuan air bersih dari para perantau ini menjadi oase bagi warga terdampak, salah satunya di Dusun Bedali, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo.
Di dusun yang dihuni sekitar 150 kepala keluarga (KK) tersebut, hampir seluruh warganya tengah berjibaku dengan keterbatasan pasokan air bersih.
Kepala Desa Gedompol, Susanto, mengungkapkan bahwa desanya sejatinya telah memiliki jaringan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) lokal.
Namun, debit dari satu-satunya sumber air yang ada harus dibagi secara bergiliran untuk melayani 10 dusun sekaligus.
“Satu sumber itu digunakan untuk 10 dusun, sehingga giliran mengalir ke satu dusun bisa memakan waktu tunggu sekitar 10 hari. Ketika menunggu jeda giliran berikutnya itulah warga akhirnya mengalami kekurangan air,” jelas Susanto.
Sulitnya mendapatkan air bersih selama masa jeda distribusi tersebut dirasakan betul oleh Suwarni (35), warga Dusun Bedali. Mengeringnya sumur warga memaksanya harus berhemat ekstra untuk kebutuhan harian, atau terpaksa merogoh kocek untuk membeli air secara patungan bersama tetangga.
“Sangat kering, mau mandi saja susah karena sumur juga sudah mulai habis. Kalau punya tampungan, airnya disimpan dan diirit-irit. Kadang harus beli air, kalau tempat tampungannya besar bisa patungan dengan warga lain,” tutur Suwarni.
Kedatangan truk tangki air bersih dari komunitas ARPAC pun disambut antusias oleh warga yang sejak pagi telah menyiapkan berbagai wadah penampungan.
Baik warga maupun pemerintah desa setempat menyampaikan apresiasi mendalam atas solidaritas para perantau yang tidak melupakan tanah kelahirannya.
“Alhamdulillah, terima kasih untuk teman-teman ARPAC. Kepedulian para perantau ini sangat bermanfaat dan betul-betul membantu warga kami di Desa Gedompol,” pungkas Kades Susanto diamini Suwarni. (*)












