BeritaIDN, PACITAN – Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Pacitan, Rakhman Wijayanto menyoroti rendahnya minat masyarakat dalam mengunjungi fasilitas perpustakaan.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pacitan untuk merumuskan inovasi baru yang mampu menarik minat baca, khususnya di kalangan anak-anak dan pelajar.
Menurut Rakhman, sarana dan prasarana pendukung di perpustakaan daerah sebenarnya sudah memadai, mulai dari ketersediaan ruangan khusus, monitor, hingga layanan digital. Kendati demikian, kelengkapan fasilitas tersebut belum cukup kuat untuk mendorong warga datang memanfaatkan perpustakaan secara optimal.
“Di situ sudah komplit juga. Ada ruang, monitor, kemudian fasilitas digitalnya. Tetapi memang susah sekali,” ujar Rakhman, Jumat (30/10/2026).
Ia menilai, pengelola perpustakaan perlu menciptakan suasana serta ragam kegiatan yang lebih dinamis agar fungsi gedung perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku semata.
“Bagaimana menciptakan suasana yang berbeda. Paling tidak, dengan adanya kegiatan di wilayah perpustakaan, buku-buku itu bisa menjadi literasi bagi masyarakat,” katanya.
Di samping pembenahan suasana, Rakhman juga menekankan pentingnya penambahan koleksi buku yang relevan dengan kebutuhan literasi masyarakat saat ini. Di tengah pergeseran kebiasaan generasi muda yang kini lebih akrab dengan telepon genggam untuk mencari informasi, tantangan serupa juga dirasakan di lingkungan perpustakaan sekolah.
“Perpustakaan itu sepi, bahkan perpustakaan di sekolah-sekolah juga sepi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia meminta Disperpusip agar tidak terjebak pada penyelenggaraan kegiatan seremonial atau lomba formalitas yang sifatnya hanya sesaat setelah acara selesai. Dinas diinstruksikan agar lebih kreatif menyesuaikan layanan dengan karakter zaman.
“Kalau hanya dibuatkan lomba perpustakaan atau kegiatan semacam itu, jangan sampai hanya menjadi formalitas. Setelah kegiatan selesai, ya selesai,” tuturnya.
Meski demikian, Rakhman menegaskan bahwa keberadaan instansi perpustakaan tetap sangat dibutuhkan dalam ekosistem pendidikan dan kebudayaan daerah, asalkan ditopang oleh penguatan kreativitas yang berkelanjutan.
“Ya, sangat perlu. Tinggal bagaimana kreativitas dari dinas. Perlu sebuah inovasi sehingga anak-anak itu tertarik untuk datang,” pungkasnya. (*)













