PACITAN-Musim kemarau panjang membawa berkah bagi petani tembakau di Kabupaten Pacitan. Selain mendukung proses pengeringan daun, cuaca panas tahun ini turut mendongkrak produktivitas dan harga jual tembakau. Harga tertinggi bahkan menembus Rp55.000 per kilogram.
Harga tersebut berlaku untuk tembakau dalam bentuk janturan, yakni daun utuh yang dikeringkan tanpa dirajang. Jenis tembakau ini dipasarkan ke PT AOI Station Lumajang untuk bahan baku cerutu.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Muhtar Yahya, mengatakan luas tanam tembakau pada 2026 mencapai 513 hektare. Hingga September, sebanyak 443 hektare telah dipanen dengan total produksi 523,10 ton.
“Rata-rata produktivitas tembakau saat ini di petani Kabupaten Pacitan itu ada 1,1 ton per hektare,” kata Muhtar, Senin, 12 Oktober 2026.
Produktivitas tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang berkisar 9 kuintal per hektare. Tahun ini, produksi tembakau diperkirakan mencapai 1,1 hingga 1,5 ton per hektare.
Panen tembakau dimulai pada Agustus dan diperkirakan berlangsung hingga pertengahan November 2026. Menurut Muhtar, kondisi cuaca yang cenderung panas mendukung tanaman menjelang panen, ketika kebutuhan pengairan mulai dikurangi.
“Musim panas ini sangat mendukung. Saat ini memang puncak-puncaknya panen dan kondisi yang baik untuk produksi, sehingga harganya juga mendukung,” ujarnya.
Dari sisi pemasaran, petani Pacitan memperoleh harga yang relatif baik melalui kemitraan dengan sejumlah perusahaan. Tembakau varietas Kasturi dan Grompol dalam bentuk rajangan kering yang diserap PT AOI Station Klaten dibanderol rata-rata Rp45.000 per kilogram. Harga ini naik dari sebelumnya sekitar Rp30.000 per kilogram.
Menurut Muhtar, tembakau yang dikirim ke Klaten digunakan sebagai bahan baku rokok Sampoerna.
Sementara itu, tembakau Virginia yang diserap PT Sadana di Ponorogo dihargai sekitar Rp35.000 per kilogram. Adapun tembakau janturan yang dipasarkan ke PT AOI Station Lumajang memiliki harga tertinggi, mencapai Rp55.000 per kilogram.
“Yang ke Lumajang itu lebih tinggi karena bentuknya janturan. Janturan digunakan untuk bahan baku cerutu,” kata Muhtar.
Kenaikan harga dan produktivitas menjadi kabar baik bagi petani di tengah musim panen. Namun, nilai jual yang diterima petani tetap bergantung pada jenis tembakau, bentuk pengolahan, dan jalur pemasaran.
Berdasarkan data DKPP Pacitan, tembakau dibudidayakan di sejumlah kecamatan dengan varietas Virginia, Kasturi, Jawa, Grompol Jatim 1, dan White Burley.
Tegalombo menjadi wilayah dengan areal tanam terluas, mencapai 110 hektare. Dari luasan tersebut, 99 hektare telah dipanen dengan produksi sekitar 125 ton.
Kecamatan Kebonagung menyusul dengan luas tanam 80 hektare, disusul Punung 77 hektare, Pacitan 45 hektare, Nawangan 41 hektare, dan Bandar 36 hektare.
Pemerintah Kabupaten Pacitan juga mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas. Dukungan tersebut mencakup kegiatan prapanen hingga pascapanen.
Muhtar mengatakan target pemerintah dalam pengembangan tembakau tahun ini telah terpenuhi. Dukungan pembiayaan dan kondisi cuaca yang menunjang diharapkan membantu petani mempertahankan produktivitas sekaligus memanfaatkan peluang harga selama musim panen.
“Alhamdulillah, target pemerintah dalam pengembangan tembakau tahun ini telah terpenuhi,” ujarnya.(*)












